
JEPARA | GISTARA. COM – Suasana religius dan penuh kekeluargaan mewarnai Pengajian Umum dalam rangka Haul Almarhumah Hj. Siti Aminah ke-19 yang digelar di kediaman H. Sayuti, RT 21 RW 05 Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo. Ratusan jamaah dari berbagai wilayah tampak memadati lokasi acara. Hadir pula tokoh masyarakat, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Sekuro, Ahad (14/6/26).
Mewakili keluarga, Wawan Wahyudi menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mendoakan almarhumah Hj. Siti Aminah. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan acara masih terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelayanan kepada para tamu.
“Semoga amal baik seluruh jamaah yang telah mendukung dan menghadiri pengajian ini mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Kami juga memohon maaf apabila dalam penyambutan dan pelayanan masih terdapat kekurangan,” ujar Wawan dalam sambutannya.
BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren di Tengah Kasus Kekerasan Seksual, Gus Sholah: Perkuat Nalar Kritis dan Perlindungan Santri
Sebelum kedatangan penceramah utama, KH. Akmal Salim dari Mantingan, pengajian terlebih dahulu diisi oleh K. Nurul Taufiq, putra H. Sayuti. Dalam tausiyahnya, ia mengutip keterangan dalam Kitab Kifayatul Atqiya’ mengenai empat tujuan penciptaan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Pertama, Allah SWT menciptakan dunia agar manusia dapat mengambil pelajaran darinya, bukan menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan. Karena itu, ia mengingatkan jamaah untuk hidup sederhana sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain hanya demi gengsi sosial.
Kedua, Allah SWT memberikan umur kepada manusia untuk digunakan dalam beribadah dan memperbanyak amal saleh. Menurutnya, masa muda merupakan kesempatan yang sangat berharga sehingga tidak semestinya dihabiskan hanya untuk mengejar kesenangan duniawi.
“Allah SWT menciptakan jin dan manusia tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, umur yang diberikan hendaknya digunakan untuk memperbanyak kebaikan,” tuturnya.
Ketiga, Allah SWT menciptakan harta sebagai sarana berbagi dan membantu sesama. Harta yang dimiliki manusia bukan sekadar untuk ditimbun, melainkan untuk dimanfaatkan melalui infak, sedekah, dan berbagai bentuk kepedulian sosial. Ia menegaskan bahwa sifat dermawan merupakan akhlak yang dicintai Allah SWT dan disenangi masyarakat.
Keempat, Allah SWT memberikan ilmu agar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu, menurutnya, bukan untuk diperdebatkan atau dijadikan sarana mencari keunggulan atas orang lain, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku dan amal nyata yang bermanfaat bagi sesama.
“Jika memiliki ilmu, maka ilmu itu harus diamalkan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki,” pesannya.
Setelah itu, pengajian dilanjutkan oleh KH. Akmal Salim sebagai penceramah utama. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk selalu mengingat kematian sebagai pengingat agar manusia terus memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.

Para jamaah dengan khidmat mengikuti pengajian
Menurutnya, kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia, melainkan awal dari pertanggungjawaban atas seluruh amal yang dilakukan selama hidup di dunia.
KH. Akmal Salim menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang mampu berubah dari perilaku yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik. Ia menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara yang harus dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Beruntunglah orang yang selalu mengingat Allah SWT dan merugilah orang yang melupakan-Nya,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan bahwa kesibukan mencari nafkah tidak boleh membuat seseorang melalaikan kewajiban beribadah. Menurutnya, keberuntungan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada kedekatan seseorang dengan Allah SWT.
Lebih lanjut, KH. Akmal Salim mengajak jamaah untuk senantiasa mendoakan orang tua yang telah wafat. Menurutnya, doa anak saleh merupakan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir kepada kedua orang tua meskipun telah meninggal dunia.
Selain itu, ia mengajak jamaah untuk tidak mudah berputus asa terhadap orang lain. Mereka yang masih jauh dari kebaikan, katanya, tetap perlu didoakan agar memperoleh hidayah dan petunjuk dari Allah SWT.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS yang tetap menjadi teladan meskipun lahir dari lingkungan keluarga yang belum sepenuhnya beriman kepada Allah SWT.
BACA JUGA: Menjaga Marwah Pesantren dari Kekerasan, Gus Sahil: Pelaku Harus Diproses sesuai Hukum yang berlaku
Dalam ceramah yang diselingi lantunan shalawat tersebut, KH. Akmal Salim menegaskan bahwa harta dan anak merupakan perhiasan kehidupan dunia. Namun, yang paling bernilai di sisi Allah SWT adalah amal saleh dan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya sehingga pahala kebaikannya terus mengalir.
Menjelang akhir pengajian, ia mengajak jamaah memperbanyak istigfar, membaca shalawat, bertahlil, serta membuka pintu tobat seluas-luasnya. Menurutnya, sebesar apa pun dosa seseorang, Allah SWT akan mengampuni hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali ke jalan yang benar.
Ia juga mengajak jamaah memanfaatkan momentum bulan Muharam dengan memperbanyak berbagai amalan sunnah. Dalam ceramahnya, KH. Akmal Salim menyebut salah satu amalan yang dikenal dalam tradisi ulama, yaitu melaksanakan salat sunnah empat rakaat pada malam bulan Muharam. Setelah salam, dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak 50 kali.
Menurut penjelasan yang disampaikannya, amalan tersebut Allah swt akan mengampuni dosa-dosa manusia selama 50 tahun. Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH. Akmal Salim. Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian acara hingga selesai sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi almarhumah Hj. Siti Amin. (KA/KM)