JEPARA | GISTARA.COM – Di tengah hiruk-pikuk dinamika kehidupan desa, sosok Naim tampil tenang dan berwibawa. Penampilannya sederhana apa adanya, namun sorot matanya memancarkan ketegasan yang dibalut keramahan tulus.
Ia bukan sekadar pemimpin yang duduk di kursi jabatan, melainkan sosok yang tumbuh bersama perjuangan, keringat, dan harapan rakyatnya.
Perjalanan hidup Naim membuktikan bahwa kesuksesan tak datang dengan sendirinya, melainkan ditempa oleh kesabaran dan kerja keras sejak dini. Lahir di Jepara, 21 Agustus 1967, ia tumbuh dalam keluarga besar yang mengajarkan arti kebersamaan salah satu dari 10 bersaudara, ia belajar berbagi dan bersahaja sejak kecil.
Pendidikan ditempuhnya dengan tekun dimulai dari SD Platar, lalu melanjutkan ke MTs Matholi’ul Huda Bugel, hingga menamatkan jenjang pendidikan di MA Matholi’ul Huda juga. Ilmu yang didapatnya tak hanya tertulis di atas kertas, namun dipadukan dengan pengalaman nyata di lapangan.
BACA JUGA: 360 Anak Ajukan Dispensasi Nikah di Jepara Sepanjang 2025, Perlindungan Anak Jadi Sorotan
Sebelum dipercaya memimpin, Naim memulai semuanya dari awal. Tangan-tangannya yang kasar membuktikan bahwa ia pernah menekuni pekerjaan sebagai pengrajin ukir dan tukang bubut.
Dari ketekunan itulah perlahan muncul kepercayaan warga, yang kemudian mendorongnya maju memimpin. Dukungan masyarakat begitu kuat hingga ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Desa Demangan selama tiga periode berturut-turut masing-masing enam tahun, dan yang terakhir ini delapan tahun—yang akan berlangsung hingga tahun 2027.
Meski kini menjabat sebagai Kepala Desa, Naim tak pernah meninggalkan kebiasaan hidup yang sederhana. Di sela-sela kesibukan melayani warga, ia tetap turun ke ladang bertani.
BACA JUGA: Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional
Ia sadar tanah mengajarkan kesabaran, dan kerja keras menjaga keutuhan jiwa. Di waktu luang, ia juga rutin berolahraga, menjaga tubuh tetap bugar agar mampu mengabdi dengan sepenuh tenaga.
Ada satu pegangan hidup yang tak pernah ia tinggalkan: “Hiduplah sederhana dan apa adanya, jangan neko-neko. Jika mendapat rezeki, syukuri, dan jangan sesekali merasa sombong.” tegasnya (20/7/26).Prinsip inilah yang membuatnya tetap membumi meski telah memimpin sekian lama.
Kepada para anak muda, Naim berpesan dengan tulus: “Manfaatkanlah kemajuan teknologi yang ada. Jangan pernah suka bermalas-malasan, karena zaman kini membuka peluang kerja yang sangat beragam. Kalian harus mampu beradaptasi dan terus mengasah kreativitas agar bisa bersaing dan bermanfaat.”
Bagi Naim, memimpin bukan soal kekuasaan, melainkan amanah untuk melayani dengan tulus hati, membawa perubahan nyata, dan menjaga agar setiap langkah selalu berpihak kepada rakyat.
Penulis: Lintang Kusuma, Mahasiswa KPI Unisnu Jepara