JEPARA | GISTARA. COM – Di balik kemajuan sebuah desa, selalu ada sosok yang memilih bekerja dalam diam daripada sibuk mencari pujian. Bagi warga Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, sosok itu adalah H. Akhmad Santoso, S.H. Seorang pemimpin yang meyakini bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan.
Lahir pada 5 April 1978, Akhmad Santoso tumbuh dalam keluarga yang menjadikan pendidikan dan akhlak sebagai pondasi kehidupan. Dari ayahnya, H. Ahmad Supeno (almarhum), ia belajar arti kedisiplinan dan pentingnya menuntut ilmu. Sosok sang ayah yang tegas membentuk karakternya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil.
Sementara itu, kasih sayang dan ketulusan sang ibu, Hj. Mutmakina, menjadi sumber semangat yang terus mengiringi langkah hidupnya. Baginya, sang ibu bukan hanya orang tua, tetapi juga motivator yang mengajarkan arti kesabaran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.
“Beliau adalah motivasi hidup saya. Sosok yang sederhana, sabar, penyayang, dan dermawan,” ungkap Akhmad Santoso saat mengenang ibunya,(24/7/26).
BACA JUGA: 360 Anak Ajukan Dispensasi Nikah di Jepara Sepanjang 2025, Perlindungan Anak Jadi Sorotan
Bekal nilai-nilai keluarga itu kemudian mengantarkannya menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.).
Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menjadi modal untuk memahami hukum, tata pemerintahan, serta kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Namun, bagi Akhmad Santoso, keberhasilan tidak diukur dari gelar pendidikan semata. Kesuksesan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi banyak orang.
Prinsip tersebut juga ia terapkan dalam kehidupan keluarganya. Bersama sang istri, Hj. Siti Hanifa, ia membangun rumah tangga yang menjadikan pendidikan sebagai warisan paling berharga bagi anak-anaknya.
Putra sulungnya, Danar Santoso, kini menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP). Putri keduanya, Davina Santoso, memilih memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Qudsiyyah Banat Kudus. Anak ketiga, Davani Santoso, berhasil mengharumkan nama keluarga dengan meraih Juara 1 Matematika Tingkat Nasional dan memperoleh Piagam Golden. Sementara putri bungsunya, Danaya Santoso, sedang menempuh pendidikan di boarding school.
H. Akhmad Santoso, S.H bersama keluarga
Baginya, pendidikan modern dan pendidikan agama harus berjalan beriringan. Keduanya menjadi bekal penting agar anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang cerdas sekaligus berakhlak.
“Saya ingin anak-anak difasilitasi ilmu agama dan dimuliakan pendidikannya, yaitu dengan mondok, sekolah yang baik, dan belajar setinggi mungkin,” tuturnya.
Perjalanan mengabdi kepada masyarakat tentu tidak selalu mudah. Sebagai seorang pemimpin, ia dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari menyatukan beragam aspirasi warga, menghadapi dinamika pembangunan desa, hingga memastikan setiap kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan kewenangan seorang pemimpin. Dibutuhkan komunikasi yang terbuka, musyawarah, dan kemauan untuk mendengar langsung suara masyarakat. Itulah sebabnya ia dikenal sebagai sosok yang senang turun ke lapangan, berdialog dengan warga, dan mencari solusi bersama.
BACA JUGA: Kaji Risalah Aswaja KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Beberkan Nilai Dasar Ahlussunnah wal Jama’ah
Di sela kesibukan menjalankan amanah, Akhmad Santoso tetap menyempatkan diri menjaga kesehatan dengan rutin berjoging. Baginya, tubuh yang sehat adalah modal penting agar tetap mampu bekerja maksimal dan hadir untuk masyarakat.
Meski telah menorehkan berbagai pengalaman dalam pengabdian, ia mengaku perjalanan itu masih jauh dari selesai. Ia memiliki harapan untuk melanjutkan kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan hingga tingkat nasional. Baginya, semakin besar amanah yang diberikan, semakin luas pula kesempatan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Di akhir perbincangan, Akhmad Santoso menyampaikan filosofi yang menjadi pegangan hidupnya.
“Menjadi petinggi bukan soal jabatan, tapi soal amanah. Saya ingin memimpin dengan hati, tetap hidup sederhana, dan memastikan pembangunan desa benar-benar dirasakan warga. Pengabdian saya belum selesai, dan insyaallah saya akan terus berjuang membawa Gemulung lebih maju.”
Kalimat tersebut bukan sekadar penutup wawancara, melainkan cerminan perjalanan hidup seorang H. Akhmad Santoso. Di tengah dinamika zaman, ia memilih tetap berpijak pada nilai-nilai yang diwariskan keluarganya: bekerja dengan tulus, memimpin dengan hati, dan menjadikan pengabdian sebagai tujuan utama. Itulah warisan yang ingin terus ia tinggalkan, bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat Gemulung dan Indonesia.
Penulis: Abimanyu Muhammad Arifin, mahasiswa KPI Unisnu Jepara