Muhammad Ana, Saat Kepercayaan Jadi Amanah

Muhammad Ana

JEPARA | GISTARA.COMKepercayaan tidak selalu datang kepada mereka yang mencarinya. Terkadang, kepercayaan justru hadir kepada seseorang yang membuktikan dedikasinya melalui kerja keras dan kepedulian terhadap sesama. Begitulah perjalanan hidup Muhammad Ana, pria kelahiran Jepara, 6 Agustus 1984, yang memulai karier dari seorang karyawan konter pulsa hingga dipercaya masyarakat menjadi Ketua RT 23 sekaligus mengembangkan usaha di bidang telekomunikasi.

Muhammad Ana lahir dan besar di Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara yang dibesarkan dalam keluarga sederhana. Sejak kecil, kedua orang tuanya menanamkan nilai kerja keras, kemandirian, dan tanggung jawab. Pendidikan ditempuh di RA Nurul Huda Bawu, SDN 2 Bawu, MTsN 1 Jepara, hingga lulus dari SMA Muhammadiyah 3 Jepara pada tahun 2004.

BACA JUGA: 360 Anak Ajukan Dispensasi Nikah di Jepara Sepanjang 2025, Perlindungan Anak Jadi Sorotan

Setelah menyelesaikan pendidikan, Muhammad Ana memilih langsung bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ia mengawali karier di Tasya Cell, Bawu Mojo, selama dua tahun sebagai karyawan konter pulsa.

Setelah itu, ia sempat bekerja di bidang mebel selama dua tahun sebelum kembali ke dunia telekomunikasi dengan bergabung di Gea Seluler hingga tahun 2010.

Perjalanan hidupnya berubah ketika seorang sales Indosat menawarkan kesempatan untuk bergabung sebagai marketing sales. Tawaran tersebut sempat ditolak, tetapi karena melihat potensi yang dimiliki Muhammad Ana, sales tersebut kembali datang dan mengajaknya bergabung.

Kesempatan itu akhirnya diterima dan membawanya bergabung dengan CV Prestasi Nusantara di Kudus sebagai Marketing Sales untuk wilayah Kedung dan Pecangaan selama empat tahun.

BACA JUGA: Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional

Berkat dedikasi dan kinerjanya, Muhammad Ana kemudian dipercaya menjabat sebagai Supervisor di PT Karya Mitra Nugraha selama tiga tahun. Setelah itu, ia kembali mengemban posisi yang sama di PT Mitra Distribusi Mandiri hingga tahun 2024. Pengalaman panjang di dunia distribusi telekomunikasi membentuk dirinya menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan mampu memimpin tim.

Di tengah kesibukannya sebagai karyawan, Muhammad Ana mulai merintis usaha sendiri. Pada tahun 2019, ia mendirikan Demal Cell, sebuah konter pulsa yang berkembang berkat pengalaman dan kepercayaan pelanggan. Kini, selain mengelola Demal Cell, ia juga menjadi owner 3Kiosk yang berlokasi di Kecamatan Kembang, Jepara.

Kesuksesan dalam dunia usaha tidak membuatnya melupakan lingkungan tempat tinggalnya. Atas dorongan dan kepercayaan warga, Muhammad Ana bersedia mencalonkan diri sebagai Ketua RT 23. Ia mengaku tidak pernah memiliki ambisi menjadi ketua RT, tetapi menganggap kepercayaan masyarakat sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saat ini, ia mengemban jabatan sebagai Ketua RT 23 dengan masa bakti hingga tahun 2030.

BACA JUGA: Menuju Pilpet Jepara 2026: Mengapa Suara Warga Desa Lebih Berharga dari Sekadar “Pesta 6 Jam”?

Sebagai Ketua RT, Muhammad Ana menggagas program jimpitan mingguan yang hasilnya dimanfaatkan untuk penerangan jalan, pengadaan kursi dan perlengkapan kematian, santunan warga, serta menjenguk masyarakat yang sedang sakit.

“Membangun lingkungan bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial,” ujarnya, (18/7/26).

Dalam kehidupan pribadi, Muhammad Ana menikah dengan Nika Farusnia pada 11 Desember 2007. Keduanya pertama kali bertemu pada tahun 2004 saat sama-sama berada di lingkungan konter pulsa. Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah keluarga yang kini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Desta Deyka Desahila, Ahmad Malka Fanani, dan Ciyara Assdia Qoriru. Keluarga menjadi sumber semangat baginya untuk terus bekerja keras dan memberikan teladan melalui kejujuran serta tanggung jawab.
BACA JUGA: Bukan Sekadar Emansipasi, Film Kartini Ungkap  Jejak Pengembangan Seni Ukir Jepara

Menurut Muhammad Ana, keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh keyakinan, kerja keras, dan doa yang dilakukan secara bersamaan. Prinsip tersebut menjadi pegangan dalam setiap langkah hidupnya, yaitu Anda harus yakin, benar-benar yakin, lalu berusaha. Insyaallah, dengan keyakinan yang disertai usaha dan doa, apa yang dicita-citakan pasti akan tercapai.”

Perjalanan hidup Muhammad Ana membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari keberanian memulai dari bawah, kemauan untuk terus belajar, serta ketulusan dalam mengabdi kepada keluarga dan masyarakat.

Nilai-nilai itulah yang menjadikannya sosok pemimpin yang dipercaya warga sekaligus inspirasi bahwa kerja keras, doa, dan kepedulian akan selalu membuka jalan menuju keberhasilan. (KA)

Penulis: Vicka Putri Na’ilaMahasiswa Prodi  KPI Unisnu Jepara

Related posts

Jalan Keberkahan Sang Pendidik: Jejak Langkah dan Pengabdian Rohmatun Subagiyo

Kesempatan Bertemu Kesiapan, Kisah Taufiq Jadi Bukti Kerja Keras Tak Pernah Mengkhianati Hasil

Mengabdi Tanpa Jarak: Kisah Naim, Kepala Desa 3 Periode yang Hidup Apa Adanya