Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara [UNISNU] merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-35 sebagai perguruan tinggi lokal yang lahir dari rahim sejarah dan peradaban. Jepara bukan sekadar kota ukir.
Secara historis, tanah ini memiliki garis panjang kepemimpinan dan pencerahan: dari Ratu Shima yang menegakkan keadilan hukum, Pati Unus sang penguasa laut yang gagah, Ratu Kalinyamat yang tangguh dalam diplomasi dan perlawanan, RM. Sosrokartono jurnalis dan intelektual ulung, hingga RA. Kartini pelopor emansipasi dan pendidikan perempuan.
Warisan ini bukan untuk dikenang secara nostalgia, melainkan untuk dihidupkan. UNISNU hadir sebagai “anak kandung” dari semangat itu. Sebagai Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama, UNISNU memikul dua tanggung jawab: menjaga akar lokalitas dan menatap horizon global.
BACA JUGA: Pengasuh Pesantren di Jepara Dorong Pemerintah Menutup Pesantren Abal-Abal, Literasi Pencegahan Kekerasan Diperketat
Di era yang disebut Marshall McLuhan sebagai Global Village, batas geografis pendidikan telah runtuh. Desa global menuntut kampus lokal mampu berpikir dunia, namun bertindak dari nilai sendiri. Di sinilah UNISNU memosisikan diri dengan 3 (tiga) pendekatan historis, pedagogy of hope, dan pedagogy of heart.
Pertama, pendekatan historis. Paulo Freire menegaskan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah. UNISNU menjadikan nilai Ratu Shima tentang supremasi hukum, semangat maritim Pati Unus, ketegasan Ratu Kalinyamat, rasionalitas Sosrokartono, dan cinta kasih Kartini sebagai kurikulum karakter. Ini yang membedakan UNISNU dari kampus lain: lulusan yang cerdas secara akademik sekaligus berakar pada jati diri bangsa.
Kedua, pedagogy of hope. Paulo Freire dan Henry Giroux menyebut pendidikan adalah praktik harapan. UNISNU harus menjadi perguruan tinggi yang memberi harapan bagi mahasiswa Jepara dan sekitarnya agar tidak harus merantau jauh untuk mendapat pendidikan berkualitas. Harapan itu diwujudkan melalui program studi berbasis potensi lokal: maritim, ekonomi kreatif ukir, agribisnis, dan teknologi digital yang relevan dengan kebutuhan industri.
BACA JUGA: PERGUNU Jepara Apresiasi Kartu Guru Sejahtera, Langkah Nyata Tingkatkan Kesejahteraan Guru
Ketiga, pedagogy of heart. Paulo Freire Nel Noddings menekankan pendidikan harus menyentuh hati. Sebagai kampus NU, UNISNU mengintegrasikan sains, teknologi, dan iman. Riset tidak hanya mengejar publikasi, tetapi juga menjawab problem masyarakat: stunting, kemiskinan, dan degradasi lingkungan pesisir.
Tantangannya besar. Menjadi kampus lokal yang mengglobal berarti UNISNU harus profesional dalam tata kelola, dosen harus riset dan publikasi internasional, serta mahasiswa harus melek bahasa internasional dan teknologi. Namun modal sosial dan kultural Jepara adalah kekuatan besar.
Di HUT UNISNU Ke-35 ini, UNISNU dipanggil untuk tidak hanya menjadi “kampus Jepara”, tetapi “kampus dari Jepara untuk Indonesia dan dunia”. Dengan semangat Ratu Shima hingga Kartini, dengan metode Global Village, UNISNU dapat menjadi perguruan tinggi berpengharapan: bagi mahasiswa, masyarakat, bangsa, dan peradaban.
H. Hisyam Zamroni, Alumni Prodi Akta IV Fakultas Tarbiyah Unisnu Jepara, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara