Oleh: Dr. Muh Khamdan
Sebuah organisasi besar sesekali perlu berhenti di depan cermin. Bukan untuk melihat seberapa besar jumlah pengikutnya, melainkan untuk memeriksa wajahnya sendiri, apakah masih terlihat nilai yang dahulu membuat masyarakat mencintainya? Pertanyaan itu relevan bagi Nahdlatul Ulama ketika memasuki abad keduanya.
Di tengah dinamika politik organisasi, perubahan generasi, dan derasnya kritik terhadap perilaku sebagian elite, NU membutuhkan lebih dari sekadar konsolidasi struktural. Ia membutuhkan pemulihan rasa percaya.
Di Jepara, cermin itu dapat ditemukan pada sosok KH Ahmad Fauzan, salah satu perintis keberadaan NU di daerah ini, yang haul ke-54 diperingati pada 25 September 2026.
KH Ahmad Fauzan tidak meninggalkan warisan berupa kemewahan institusional. Warisan terpentingnya adalah kedekatan dengan masyarakat. Sejarah NU Jepara mencatat beliau sebagai tokoh yang ikut merintis NU Cabang Jepara, sekaligus pendidik dan pendakwah yang mengembangkan syiar melalui pesantren, pengajaran, dan karya sastra keagamaan.
BACA JUGA: Ulil Albab Ajak Pramuka Melek Perda dan Berani Ambil Peran
Ia bergerak pada ruang yang sederhana. Mendatangi masyarakat, mengajar, membangun kesadaran keagamaan, dan menghidupkan tradisi keilmuan. Di situlah letak relevansinya. Rebranding NU Jepara tidak harus dimulai dari panggung besar. Ia dapat dimulai dari cara organisasi kembali hadir di tengah persoalan warga.
Rebranding sering disalahpahami sebagai pekerjaan komunikasi. Logo diperbarui, media sosial diperindah, slogan dibuat lebih modern, lalu organisasi merasa telah berubah. Padahal reputasi tidak lahir dari desain grafis. Reputasi lahir dari pengalaman.
Warga akan menilai NU berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Bagaimana NU membantu ketika biaya sekolah meningkat, bagaimana kadernya mendampingi keluarga miskin, bagaimana lembaga pendidikan menjawab perubahan teknologi, dan bagaimana organisasi menyikapi problem anak muda.
Rebranding NU Jepara karena itu harus dimulai dari perubahan pengalaman masyarakat, bukan sekadar perubahan tampilan.
BACA JUGA: PMII Jepara Dorong Kader Jadi Pelopor Demokrasi dalam Pilpet 2026
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu identitas. Selama ini jumlah warga NU kerap disebut dalam angka yang sangat besar, tetapi batas antara anggota formal, warga kultural, jamaah pesantren, simpatisan, dan masyarakat yang merasa dekat dengan tradisi NU tidak selalu terang. Situasi ini membuat identitas NU mudah dilekatkan kepada seseorang ketika melakukan sesuatu yang negatif, meski status keanggotaannya tidak pernah diverifikasi. Pendataan keanggotaan yang lebih tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian dari rebranding yang justru sering dilupakan. Organisasi modern membutuhkan data yang modern pula.
Di Jepara, kebutuhan itu semakin terasa karena NU bukan organisasi yang hidup di ruang hampa. Ia berhadapan dengan masyarakat industri, petani, nelayan, pekerja migran, pelaku usaha, santri, mahasiswa, guru, buruh, dan generasi digital.
Jepara berubah cepat. Kawasan industri berkembang, pola kerja bergeser, teknologi mengubah cara anak muda berkomunikasi, sementara problem lingkungan dan ekonomi keluarga semakin kompleks.
NU yang hanya sibuk mengurus dirinya sendiri akan kehilangan kesempatan untuk menjadi kekuatan sosial yang relevan. Sebaliknya, NU yang hadir pada persoalan nyata akan menemukan kembali alasan mengapa masyarakat membutuhkan organisasi ini.
Dr. Muh Khamdan
Karena itu, haul KH Ahmad Fauzan pada 25 September 2026, seharusnya tidak hanya menjadi acara mengenang seorang ulama. Haul perlu diperlakukan sebagai momentum evaluasi. Apa yang akan dilakukan generasi NU Jepara setelah mengenang seorang perintis yang dahulu bekerja tanpa fasilitas komunikasi digital, tanpa algoritma media sosial, dan tanpa kemudahan organisasi modern? Jawabannya justru sederhana, menghidupkan kembali semangat melayani. Keteladanan tidak boleh berhenti dalam ceramah. Ia harus turun menjadi program.
KH Ahmad Fauzan memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah organisasi memperoleh legitimasi sosial. Legitimasi tidak selalu datang dari jabatan. Ia tumbuh dari kepercayaan.
Seorang ulama menjadi rujukan karena masyarakat mengetahui bahwa ilmunya berguna, perilakunya dapat dipercaya, dan kehadirannya memberi ketenangan. Prinsip itu masih berlaku. Pengurus NU dapat memiliki jabatan tinggi, tetapi jabatan tidak otomatis membuat masyarakat mencintai organisasi. Yang membuat NU dicintai adalah ketika masyarakat merasakan bahwa organisasi itu benar-benar milik mereka.
Maka, rebranding NU Jepara harus diarahkan pada satu kata yang selama ini menjadi inti tradisi Nahdlatul Ulama: khidmah. Namun khidmah perlu diterjemahkan dengan ukuran yang konkret. Berapa banyak anak keluarga kurang mampu yang memperoleh akses pendidikan? Berapa banyak pelaku usaha kecil yang mendapatkan pendampingan? Berapa banyak pemuda yang memperoleh ruang pengembangan keterampilan? Berapa banyak keluarga yang memperoleh bantuan ketika menghadapi persoalan sosial? Berapa banyak konflik masyarakat yang dapat diredam melalui pendekatan keagamaan dan kebudayaan? Ukuran-ukuran semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar banyaknya acara.
BACA JUGA: Pengurus LPTQ Jepara 2026-2031 Dilantik, Syiar dan Habituasi Al-Qur’an Jadi Fokus
Marwah organisasi juga membutuhkan etika elite. Ketika masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi, perilaku konsumtif dan gaya hidup berlebihan sebagian elite akan mudah dibaca sebagai jarak dengan umat. NU tidak harus memusuhi kemajuan atau kesejahteraan. Hal yang perlu dijaga adalah kewajaran dan kepantasan. Elite organisasi harus menunjukkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya. Keteladanan KH Ahmad Fauzan justru memperoleh kekuatannya dari kedekatan dan kesederhanaan itu.
Kontestasi internal juga perlu diletakkan kembali pada tempatnya. Perbedaan pilihan dalam organisasi adalah hal biasa. Muktamar, konferensi, musyawarah, dan pemilihan kepemimpinan merupakan mekanisme organisasi. Hal yang berbahaya adalah ketika kontestasi berubah menjadi tujuan. Setelah suara dihitung, organisasi harus kembali bekerja. Warga NU tidak membutuhkan elite yang terus menerus bertengkar mengenai siapa yang paling berhak memimpin. Mereka membutuhkan organisasi yang mampu menjawab persoalan kehidupan sehari-hari.
NU Jepara memiliki modal sejarah untuk melakukan itu. Jejak para pendiri dan perintis bukan sekadar arsip. Ia adalah modal legitimasi. Namun sejarah juga dapat berubah menjadi beban apabila hanya dipakai untuk membanggakan masa lalu.
Mengulang nama besar para ulama tanpa meneruskan cara mereka bekerja, sama saja dengan memajang foto leluhur tanpa meneruskan nilai yang mereka perjuangkan. Haul KH Ahmad Fauzan seharusnya menjadi ruang untuk mengubah nostalgia menjadi agenda.
BACA JUGA: 21 Dapur MBG di Jepara Disidak Serentak Dini Hari, Dari Bahan Baku hingga IPAL Diperiksa
Agenda itu dapat dimulai dari gerakan sederhana, Jepara Bangga NU. Bukan kampanye slogan, melainkan gerakan yang membuat warga memiliki alasan konkret untuk mengatakan bahwa menjadi bagian dari NU adalah sesuatu yang membanggakan.
Kebanggaan itu dibangun melalui sekolah yang berkualitas, pesantren yang adaptif, pelayanan kesehatan yang manusiawi, pemberdayaan ekonomi, perlindungan perempuan dan anak, penguatan literasi digital, kepedulian lingkungan, serta ruang kreatif bagi generasi muda. Ketika manfaat itu terlihat, identitas tidak perlu dipaksakan.
Tradisi dan modernitas pun tidak perlu dipertentangkan. Justru NU memiliki keunggulan karena mempunyai keduanya. Tradisi pesantren menyediakan akar pengetahuan dan moral, teknologi menyediakan instrumen untuk memperluas pelayanan. Pengajian dapat tetap berlangsung, tetapi organisasinya harus mampu menggunakan data. Musyawarah tetap dipelihara, tetapi pengambilan keputusan dapat ditopang informasi yang lebih akurat. Dakwah tetap berakar pada kitab, tetapi cara menyampaikannya harus memahami bahasa generasi yang hidup di TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai ruang digital lainnya.
Jika rebranding NU Jepara ingin berhasil, maka yang harus diperbarui bukan hanya cara NU berbicara kepada publik, tetapi juga cara NU bekerja untuk publik.
Organisasi perlu membangun standar integritas pengurus, transparansi program, sistem pengaduan yang dapat dipercaya, pendataan anggota yang jelas, kaderisasi berbasis kompetensi, serta evaluasi program yang terbuka. Dengan demikian, keteladanan KH Ahmad Fauzan tidak berhenti menjadi memori kolektif. Ia berubah menjadi sistem kerja. Sejarah menjadi energi, bukan sekadar dekorasi.
Pada akhirnya, kecintaan kepada NU tidak dapat diperintah. Kebanggaan juga tidak dapat diproduksi melalui slogan. Keduanya tumbuh dari pengalaman. Ketika seorang santri menemukan masa depan di pesantren, seorang anak memperoleh pendidikan yang layak, seorang pedagang kecil merasa didampingi, seorang petani mendapatkan akses pengetahuan, seorang pemuda memperoleh ruang berkarya, dan sebuah keluarga merasa tidak sendirian menghadapi kesulitan, di situlah marwah NU tumbuh.
Haul ke-54 KH Ahmad Fauzan pada 25 September 2026 dapat menjadi titik balik bagi NU Jepara. Dari sekadar mengenang keteladanan menuju mengerjakannya. Sebab organisasi sebesar NU tidak membutuhkan kebanggaan yang diwariskan secara otomatis. Ia membutuhkan alasan baru agar generasi hari ini memilih untuk mencintainya kembali.
Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah