Gus Nabil Ajak Jama’ah untuk Bersikap Tawadu’, Bersyukur dan Perbanyak Istigfar

Gus Nabil menyampaikan tausiyah dalam kajian Ahad Pagi

JEPARA | GISTARA. COM – Suasana pagi yang sejuk menyelimuti Masjid Jami’ Raudlatul Falah, Desa Sekuro, Jepara. Seusai salat Subuh, para jamaah khusyuk menyimak kajian Ahad pagi yang disampaikan Gus Nabil, Minggu (4/10/2026).

Kajian tersebut mengajak jamaah memperbaiki kualitas diri melalui sikap tawaduk, membiasakan bersyukur, serta memperbanyak istigfar dan doa kepada Allah SWT.

Dalam kajiannya, Gus Nabil mengingatkan pentingnya sikap tawaduk, yakni rendah hati dan menghormati orang lain. Menurutnya, kerendahan hati menjadi bagian penting dalam membangun akhlak seorang Muslim. Sikap ini mengajarkan seseorang agar tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain, baik karena ilmu, kedudukan, maupun kelebihan yang dimilikinya.

BACA JUGA: Pemkab Jepara Canangkan Desa Digital, Dorong Pemerintahan Desa Efektif, Transparan dan Akuntabel

Selain tawaduk, Gus Nabil menekankan pentingnya syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Ia mengingatkan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui hati, lisan, dan perbuatan.

“Syukur dibagi tiga, yaitu syukur bil qalbi, syukur bil lisan, syukur bil jawarih” jelasnya dengan semangat.

BACA JUGA: Jepara Bersholawat, Ikhtiar Batiniah Pemkab untuk Pembangunan Daerah

Syukur melalui hati (syukur bil qalbi) diwujudkan dengan menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT.

Kesadaran tersebut diharapkan melahirkan ketenangan, kegembiraan, dan sikap menerima nikmat dengan lapang dada.

Sementara itu, syukur melalui lisan (syukur bil lisan) diwujudkan dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah sebagai ungkapan pujian dan terima kasih kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Dukung Aktivitas Ekonomi Lokal dan Akses Kawasan Wisata, Jalan Bulak Baru akan Dimuluskan

Adapun syukur melalui perbuatan (syukur bil jawarih) dilakukan dengan menggunakan nikmat yang dimiliki untuk hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan tuntunan agama.

Gus Nabil mengajak jamaah membiasakan rasa syukur dalam berbagai keadaan, bukan hanya ketika memperoleh kesenangan, tetapi saat mendapat musibah tetap bersyukur.

“Siapa pun yang berbuat kebajikan, manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, demikian pula perbuatan buruk akan membawa akibat bagi pelakunya,” terang Gus Nabil.

BACA JUGA: Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial

Ia menjelaskan kitab Tanbihul Ghafilin memuat berbagai nasihat keagamaan yang mengajak umat Islam menjauhi perilaku tercela dan meningkatkan amal kebajikan. Dengan demikian, setiap Muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi perkataan, sikap, dan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa doa merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Waktu dan bentuk pengabulan doa sepenuhnya menjadi kehendak Allah SWT. Karena itu, seseorang hendaknya tidak mudah berputus asa ketika doanya belum terwujud sesuai dengan harapan.

BACA JUGA: 21 Dapur MBG di Jepara Disidak Serentak Dini Hari, Dari Bahan Baku hingga IPAL Diperiksa

Dalam kesempatan tersebut, jamaah juga diingatkan untuk membiasakan doa yang memohon hati yang qanaah, yakni hati yang merasa cukup atas pemberian Allah SWT, disertai ikhtiar untuk menjalani kehidupan dengan baik.

“Memohon kesehatan menjadi bagian dari ikhtiar spiritual agar seseorang dapat menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik,” pungkas Gus Nabil.

Melalui kajian Ahad pagi itu, jamaah diajak menjadikan tawaduk sebagai landasan berakhlak, syukur sebagai kebiasaan hidup, serta istigfar dan doa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. (KA/KM)

Related posts

Menjaga Diri dengan Wira’i dan Iffah

Salat Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Kiai Fathur Rohman Serukan Kesalehan Total: Ritual, Sosial, dan Ekologis