Fathan Subchi: Perjuangan yang Tak Sempat Menyaksikan Kado Terakhir

Drs. H. Fathan Subchi, M.AP (Ketua PB iKA PMII Periode 2020-2030/Anggota BPK RI)

Oleh: Dr  Muh Khamdan

Ada orang yang sepanjang hidupnya sibuk membangun sesuatu, tetapi tidak selalu ingin namanya disebut dalam setiap keberhasilan. Ada pula orang yang menghabiskan sebagian besar usianya untuk menghidupkan orang lain, membuka jalan bagi juniornya, dan memastikan organisasi yang dicintainya tetap tumbuh meski dirinya suatu saat harus pergi. Fathan Subchi adalah salah satu sosok yang meninggalkan jejak seperti itu.

Ahad, 25 Oktober 2026, di Moskow, Rusia, perjalanan hidup seorang aktivis, politisi, dan pengabdi negara itu berhenti ketika sedang menunaikan tugas konstitusional sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Usianya baru 56 tahun. Ia lahir pada 11 Februari 1970. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang pejabat negara, melainkan kehilangan seorang kader yang sepanjang hidupnya menjadikan pengabdian sebagai cara untuk mencintai.

Fathan bukan orang yang tiba-tiba menemukan jalan perjuangannya ketika memasuki panggung politik. Akar pengabdiannya tumbuh dari tradisi panjang pengkaderan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dunia aktivisme telah membawanya melalangbuana dalam pergulatan organisasi, perjumpaan intelektual, dan dinamika gerakan mahasiswa. Di sana ia belajar bahwa perjuangan tidak selalu tentang siapa yang berdiri paling depan, tetapi tentang siapa yang bersedia memastikan orang lain mampu melanjutkan perjalanan.

PMII baginya bukan sekadar organisasi yang pernah membesarkan namanya. Ia adalah rumah ideologis, tempat persaudaraan dirawat, nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dipertemukan, serta keberlanjutan kader menjadi tanggung jawab yang tidak pernah selesai.

BACA JUGA: Jepara Bersholawat, Ikhtiar Batiniah Pemkab untuk Pembangunan Daerah

Perjalanan politiknya kemudian mengantarkan Fathan menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa selama dua periode, 2014–2024. Sepuluh tahun berada di parlemen merupakan bagian penting dari perjalanan pengabdiannya kepada masyarakat dan negara. Namun, jabatan politik tidak membuatnya meninggalkan akar gerakan yang membentuk dirinya. Justru, ketika banyak orang menganggap aktivitas organisasi sebagai bagian dari masa lalu, Fathan tetap memilih berada di tengah keluarga besar pergerakan.

Ia mengakhiri perjalanan hidupnya dengan amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni PMII (IKA PMII), sebuah jabatan yang semestinya masih diembannya hingga 2030. Takdir ternyata lebih dahulu memanggilnya pulang. Masa kepemimpinannya memang terhenti, tetapi tanggung jawab moralnya untuk menghidupkan kader tidak ikut terkubur bersama jasadnya.
Ketika dipercaya menjadi anggota BPK RI, khususnya dengan perhatian pada sektor kesehatan, Fathan menemukan medan pengabdian yang berbeda. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan dinamika politik dan pengkaderan, tetapi juga dengan persoalan mendasar tentang bagaimana negara memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik.

Penugasannya di Moskow berkaitan dengan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan. Di tengah tugas negara itulah ia mengembuskan napas terakhir. Sebuah ironi yang menggetarkan: seseorang yang sedang menjalankan tanggung jawab untuk memastikan uang negara dikelola secara bertanggung jawab justru mengakhiri perjalanan hidupnya jauh dari tanah air. Pengabdian itu berlangsung sampai batas terakhir yang tidak pernah diketahui manusia.

Ada satu kisah perjuangan Fathan yang mungkin tidak akan tercatat besar dalam laporan politik nasional, tetapi akan selalu hidup dalam ingatan sebagian masyarakat NU Mayong, Jepara. Namanya terhubung dengan perjalanan RSINU Cakra Medika Mayong, rumah sakit yang didirikan dan dikelola oleh MWCNU Mayong melalui Yakisnu Mayong dengan dukungan berbagai kemitraan.

BACA JUGA: Perluas Akses Pendidikan, Bupati Jepara Salurkan Kartu Sarjana Rp2,49 Miliar

Fathan tidak sekadar hadir sebagai tokoh yang memberikan dukungan seremonial. Ia ikut mengawal perjalanan rumah sakit itu sejak fase pembangunan, peresmian, pengurusan izin operasional, hingga kebutuhan penguatan pelayanan kesehatan. Ia juga memfasilitasi dukungan armada ambulans. Perhatian itu memperlihatkan bahwa baginya, perjuangan NU tidak cukup hanya dengan membangun lembaga pendidikan, menghidupkan pengajian, atau memperkuat struktur organisasi. NU juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan medis, ketika keluarga miskin membutuhkan akses kesehatan, dan ketika keselamatan manusia tidak boleh dikalahkan oleh keterbatasan fasilitas.

Perjuangan tersebut mencapai salah satu tonggak penting ketika RSINU Cakra Medika Mayong berhasil mengupayakan kemitraan dengan BPJS Kesehatan. Fathan ikut mengawal proses panjang yang mengantarkan rumah sakit tersebut menuju kerja sama yang sangat berarti bagi keberlanjutan pelayanan kesehatan masyarakat. Baginya, kemitraan itu bukan sekadar urusan administratif antara dua institusi.

Di balik dokumen kerja sama terdapat harapan agar semakin banyak masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang terjangkau. Ada masa depan rumah sakit yang sedang dibangun dengan keringat para pengurus NU, tenaga kesehatan, dan seluruh pihak yang percaya bahwa khidmah harus diwujudkan melalui kerja nyata. Ada pula cita-cita agar lembaga milik jam’iyah tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi benar-benar mampu memberikan manfaat bagi umat.
Ironi kehidupan terasa begitu dalam ketika mengingat bahwa penandatanganan kemitraan RSINU Cakra Medika Mayong dengan BPJS Kesehatan yang berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, sedianya menjadi salah satu kado perjuangan Fathan. Barangkali ia ingin menyaksikan sendiri bahwa ikhtiar yang selama ini dikawalnya akhirnya membuahkan hasil. Barangkali ia ingin mendengar kabar bahwa rumah sakit yang dahulu ikut diperjuangkannya kini semakin memiliki ruang untuk melayani masyarakat.

Namun, Allah berkehendak lain. Ia tidak sempat menyaksikan momentum itu. Penandatanganan yang seharusnya menjadi kado perjuangan justru berlangsung ketika dirinya telah berpulang. Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa tidak semua orang yang menanam harus diberi kesempatan menyaksikan pohon yang ditanamnya berbuah. Ada orang yang cukup menjalankan tugas menanam, sementara generasi berikutnya diberi amanah untuk merawat dan memetik hasilnya.

BACA JUGA: Dukung Pariwisata, Express Bahari 7G Perkuat Konektivitas Jepara–Karimunjawa

Jumat, 30 Oktober 2026, Fathan akhirnya dimakamkan di kompleks pemakaman Girikusumo, Mranggen, Demak. Sebelumnya, jenazah disemayamkan di Kantor Pusat BPK RI dan rumah duka di kawasan Condet, Jakarta Timur. Perjalanan panjang dari Moskow menuju peristirahatan terakhir di tanah kelahirannya menjadi penutup sebuah pengabdian yang melintasi batas organisasi, politik, dan negara. Di pemakaman itu, tidak hanya seorang anggota BPK RI yang dikebumikan. Seorang senior pergerakan, seorang sahabat, seorang pembina kader, dan seorang penggerak pengabdian NU telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Barangkali tak ada penghormatan yang cukup untuk membalas seluruh kebaikan seseorang. Namun, doa-doa yang mengiringi pemakamannya menjadi bukti bahwa kehidupan yang dipenuhi manfaat tidak pernah benar-benar berakhir ketika kematian datang.

Sebagai aktivis NU, Fathan memahami bahwa organisasi tidak akan pernah besar hanya karena kuatnya para pemimpin. Organisasi akan bertahan karena ada kader-kader muda yang terus diberi kesempatan untuk tumbuh. Itulah sebabnya, pengkaderan bukan sekadar agenda formal yang selesai setelah pelatihan atau forum pengambilan keputusan. Ia adalah kerja panjang menghidupkan manusia. Menghidup-hidupi kader, memberi ruang kepada junior, membuka akses, mempertemukan mereka dengan kesempatan, dan membantu mereka menemukan jalan pengabdian merupakan bagian dari tradisi yang terus dijaganya hingga akhir hayat.

Tidak semua kebaikan itu harus diketahui masyarakat. Tidak semua bantuan harus diumumkan. Tidak semua jalan yang dibukakan harus berujung pada penyebutan nama orang yang membukanya. Dalam tradisi pergerakan, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat junior berhasil, meskipun sang senior hanya menjadi bagian kecil dari cerita keberhasilan tersebut.
Karena itu, RSINU Cakra Medika Mayong patut dibaca lebih dari sekadar bangunan pelayanan kesehatan. Ia adalah salah satu monumen perjuangan yang dapat mengingatkan kita pada jejak pengabdian Fathan. Tentu, rumah sakit itu merupakan hasil kerja kolektif MWCNU Mayong, Yakisnu Mayong, tenaga kesehatan, para pengurus, dan seluruh pihak yang terlibat. Tidak tepat jika seluruh keberhasilannya dilekatkan kepada satu orang. Namun, sejarah juga tidak boleh melupakan orang-orang yang diam-diam ikut mengawal, memperjuangkan, dan membuka jalan bagi keberlangsungannya.

Dalam konteks itulah, nama Fathan menemukan tempatnya. Ia ikut memperjuangkan sesuatu yang manfaatnya akan terus dirasakan setelah dirinya tiada. Kelak, ketika ambulans RSINU melaju membawa pasien, ketika masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, atau ketika seorang pasien miskin mendapatkan akses pengobatan, ada jejak perjuangan yang patut disyukuri. Barangkali inilah salah satu bentuk amal yang terus mengalir: manfaat yang hidup melampaui usia orang yang mengusahakannya.

Mungkin ia tidak sempat menyaksikan RSINU Cakra Medika Mayong merayakan kemitraan BPJS, tetapi generasi yang ditinggalkannya dapat memastikan bahwa rumah sakit itu terus tumbuh. Mungkin ia tidak lagi dapat berdiri di tengah forum pengkaderan, tetapi para juniornya dapat melanjutkan tradisi membesarkan kader. Mungkin ia tidak lagi bisa membuka jalan bagi orang lain, tetapi orang-orang yang pernah dibukakan jalan olehnya kini memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang sama.

Selamat jalan, Fathan Subchi. Ada perjuangan yang tidak selesai ketika pejuangnya meninggal dunia. Ia justru menemukan kehidupan baru melalui orang-orang yang bersedia meneruskannya. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan tempat peristirahatanmu, dan menempatkanmu di sisi terbaik-Nya. Engkau telah pergi, tetapi orang-orang yang pernah engkau hidupkan masih ada. Kini giliran kami memastikan bahwa perjuanganmu tetap hidup.

Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah

Related posts

Sumpah Pemuda dan Identitas Baru Masyarakat Hindia Belanda

Menyalakan Kembali Bara Sumpah Pemuda di Era Algoritma

Bahasa Arab, Pegon, dan Turats: Merawat Identitas Santri di Tengah Banjir Informasi