Seragam di Persimpangan

Karya : Zahrotun Nisak (Kelas XI MA NU Tengguli)

Pagi itu, sinar matahari menyinari halaman kantor kecamatan. Haris berdiri tegap mengenakan seragam dinas yang sudah dua tahun ini melekat di tubuhnya. Sejak menjadi Petugas Ketertiban, ia menyadari bahwa seragam bukan hanya sekedar pakaian kerja yang membungkus badan, melainkan lambang amanah yang harus di jaga.

Pikirannya melayang pada peristiwa dua tahun silam yang hingga kini masih membekas dalam benaknya. Ketika ia baru beberapa bulan menjadi Petugas Ketertiban.

Pada hari itu, Haris menerima laporan bahwa ada seorang pedagang asongan yang berjualan di trotoar jalan hingga menggangu para pejalan kaki. Awalnya laporan yang ia terima hanya laporan-laporan biasa, tapi lambat laun laporan itu juga di sertai keterangan bahwa pedagang tersebut memaksa para pejalan kaki untuk membeli apa yang ia jual.

Karna sudah terlalu sering menerima laporan dari anak buahnya, bahwa mereka tidak berhasil mengusir pedagang tersebut akhirnya Haris sendiri yang akan turun tangan.

Haris segera menuju lokasi yang dimaksud. Langkahnya mantap menyusuri trotoar yang mulai di padati oleh aktivitas masyarakat. Dari kejauhan, ia melihat seorang laki-laki seusianya dengan pakaian sederhana sedang menawarkan berbagai macam barang dagangannya ke pada orang-orang yang sedang melintas, ia terlihat begitu memaksa agar orang-orang membeli barang dagangannya.

BACA JUGA: Soroti Penggeledahan Ponpes Hamalatul Qur’an di Sukoharjo, H. Rif’an Tekankan Perlindungan Santriwati

Beberapa orang tampak menggelengkan kepala dan juga mempercepat langkah mereka, sedangkan pedagang itu masih berusaha mengejar sambil terus menawarkan dagangannya.

Pemandangan tersebut membuat Haris memahami alasan mengapa laporan dari masyarakat terus berdatangan.

Sebelum mengambil tindakan, Haris memilih mengamati keadaan sejenak. Ia memperhatikan wajah pedagang itu dengan seksama. Entah mengapa wajah tersebut terasa tidak begitu asing baginya.

Kerutan diwajah laki-laki itu memang menunjukkan bahwa usia telah banyak mengubah penampilan nya, tetapi sorot matanya mengingat kan Haris pada seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.

Ingatanya melayang jauh bertahun-tahun ke belakang, Ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Dahulu ia memiliki seorang sahabat yang selalu menemaninya pergi, kemanapun dan selalu mendukungnya dalam situasi apapun.

Dulu mereka sering belajar bersama di perpustakaan, mengikuti berbagai kegiatan bersama-sama sekolah secara bersama-sama, bahkan saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan.

BACA JUGA: Perluas Akses Pendidikan, Bupati Jepara Salurkan Kartu Sarjana Rp2,49 Miliar

Sahabatnya itu di kenal sebagai anak yang rajin, jujur dan tidak pernah mengeluh meskipun berasal dari keluarga yang sederhana.

Persahabatan mereka begitu erat hingga banyak guru mengenal keduanya sebagai siswa yang hampir tidak pernah terpisahkan.

Lamunan Haris buyar ketika suara pedagang itu terdengar semakin jelas. Tanpa sadar, ia telah berdiri hanya beberapa langkah di hadapan laki-laki tersebut.

Pedagang itu mengangkat kepalanya dan menatap Haris. Dalam waktu beberapa detik, keduanya saling terdiam. wajah mereka sama-sama memperlihatkan keterkejutan.

Haris akhirnya ia menyadari bahwa pedagang yang selama ini di laporkan masyarakat itu adalah teman lamanya semasa sekolah dulu. Begitu pula dengan pedagang tersebut yang perlahan mulai mengenali sosok Haris, meskipun sekarang ia sedang menggunakan seragam kerjanya.

“Bimaa?” Haris mengucapkan nama itu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia masih berusaha memastikan bahwa laki-laki yang berdiri di hadapannya benar-benar sahabat lamanya.

BACA JUGA: Dukung Pariwisata, Express Bahari 7G Perkuat Konektivitas Jepara–Karimunjawa

Laki-laki itu menghentikan kegiatannya. Ia menatap Haris beberapa saat, kemudian memperhatikan seragam yang dikenakan oleh sahabat lamanya tersebut. Senyum kecil kemudian perlahan muncul di wajahnya.

“Haris? Benarkah ini kamu?” tanyanya. Haris mengangguk “Ya Bim. Aku hampir tidak mengenalimu” Keduanya terdiam beberapa saat.
Pertemuan yang tidak pernah mereka bayangkan itu terjadi di tempat yang sama sekali tidak mereka duga. Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Banyak hal telah berubah, termasuk penampilan dan kehidupan masing-masing.

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya bima “Sejak lulus sekolah. Kalau tidak salah, sudah hampir sepuluh tahun,” jawab Haris. Bima tersenyum tipis. “waktu memang berjalan begitu cepat.”

Haris memandang wajah sahabatnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia masih dapat mengingat bima sebagai seorang siswa yang selalu duduk di bangku sebelahnya.

Dulu, mereka hampir selalu bersama. Mereka berdua selalu mengerjakan tugas sekolah hingga sore, belajar untuk ujian bersama, bahkan terkadang dimarahi guru karna terlalu banyak bicara ketika pelajaran.

Seketika sebuah kenangan melintas di pikiran Haris. Saat itu mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Bima sedang duduk di bawah pohon di halaman belakang sekolah sambil membaca buku.

Haris datang menghampiri dengan membawa dua bungkus makanan – “Bim, kau sudah makan?” tanya Haris kala itu. “Belum Ris, aku sedang menghemat uang” jawab Bima. Haris lalu memberikan satu makanannya ke Bima. “Ambillah, ayo makan bersama.”

BACA JUGA: 323 Pelamar Ikuti Seleksi Pegawai RSINU Mayong, Kemitraan BPJS Kesehatan Jadi Momentum Baru Pelayanan

Mereka kemudian duduk bersama sambil makan lalu membicarakan cita-cita setelah lulus sekolah “Aku ingin memiliki usaha sendiri suatu hari nanti” kata Bima dengan penuh keyakinan dan semangat. “Usaha apa Bim?” tanya Haris “Entah lah. Yang penting aku bisa membantu keluargaku dan tidak terus bergantung pada orang lain.”

Haris menatap barang dagangan Bima yang ada di atas trotoar di tata dengan sederhana. “Aku tidak menyangka keadaan mu sampai seperti ini” ucap Haris pelan.

“Kau tak perlu mengasihaniku Ris, aku hanya sedang menjalani hidup. Selama aku masih bisa bekerja dan menghasilkan uang dengan halal, aku akan tetap melakukan nya.

Mendengar perkataan itu, Haris semakin salut dan takjub kepada Bima. Namun ia, tetap menyadari bahwa dirinya sedang menjalankan tugas.

“Bim, aku memahami keadaanmu. Akan tetapi, aku tetap harus menjalankan peraturan. Trotoar ini merupakan fasilitas untuk pejalan kaki. kalau digunakan untuk berjualan, orang orang akan kesulitan berjalan. ”

Bima mengangguk pelan. “Aku mengerti. Aku juga sebenarnya tidak ingin mengganggu orang lain. Hanya saja, tempat ini cukup ramai sehingga daganganku lebih mudah terjual.

”Kalau begitu, bagaimana jika kamu memindahkan daganganmu ke tempat yang tidak mengganggu pejalan kaki?” saran Haris.
Bima menatap Haris. “Apakah kamu akan menyita daganganku?”

“Tidak,” jawab Haris. “Aku hanya meminta kamu memindahkannya. Aku datang untuk menjaga ketertiban, bukan untuk mempersulit orang yang sedang mencari nafkah.”

Bima terdiam. Beberapa saat kemudian, ia mengangguk.

“Terima kasih, Ris. Ternyata kamu masih sama seperti dahulu.”
Haris tersenyum. “Maksudmu?”
“Dulu kamu selalu membantu orang lain tanpa banyak berpikir.
Rupanya setelah bertahun-tahun, sifat itu masih ada.”

BACA JUGA: Riset UIN Sunan Kudus: Mustahik Puas Terima Zakat Produktif, Dampak Ekonomi Perlu Dikawal

Haris tertawa kecil. “Dan kamu juga masih sama. Masih keras kepala ketika sudah memiliki keinginan.”

Keduanya kemudian tertawa. Untuk sesaat, mereka kembali seperti dua orang siswa yang duduk bersama di halaman sekolah, membicarakan cita-cita dan masa depan.

Namun, Haris menyadari bahwa kehidupan telah membawa mereka ke jalan yang berbeda. Ia memilih menjadi petugas ketertiban, sedangkan Bima harus berjuang sebagai pedagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meskipun demikian, perbedaan keadaan tidak membuat persahabatan lama itu benar-benar hilang.
Setelah membantu Bima memindahkan barang dagangannya, Haris menepuk bahunya.

“Suatu saat nanti, kita harus bertemu lagi. Bukan sebagai petugas dan pedagang, tetapi sebagai dua sahabat lama.”

Bima tersenyum. “Aku akan menunggu hari itu, Ris.”

Haris kemudian melanjutkan tugasnya.
Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya masih tertuju kepada Bima.

Pertemuan singkat itu membuatnya menyadari bahwa di balik setiap orang yang ditemuinya, selalu ada cerita kehidupan yang tidak diketahui oleh siapa pun. (KA)

Related posts

Surat di Bawah Pohon Kenari

Senja di Beranda Tua

Sepotong Sore