JEPARA | GISTARA. COM – Kobaran api unggun menjadi salah satu momen yang paling dinantikan dalam kegiatan Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa) MTs Matholiul Ulum Banjaragung (Matsamuba), Jumat (21/8) malam.
Di tengah suasana malam yang penuh keakraban, ratusan peserta didik mengikuti kegiatan penyalaan api unggun dengan penuh semangat dan khidmat.
Sebelum kegiatan api unggun, para peserta terlebih dahulu mengikuti salat berjamaah dan pembacaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di halaman madrasah.
Suasana malam itu terasa berbeda. Para siswa yang sejak pagi mengikuti berbagai kegiatan lapangan tampak kembali berkumpul bersama kakak pembina dan dewan guru dalam suasana penuh kebersamaan.
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81
Bakda Isya, kegiatan dilanjutkan dengan penyambutan tamu Penggalang Gudep MTs Matholiul Ulum Banjaragung. Prosesi tersebut kemudian ditandai dengan penyalaan api unggun.
Ketika api mulai menyala dan kobarannya menerangi halaman madrasah, semangat para peserta pun semakin terasa.
Api unggun tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial dalam perkemahan, tetapi menjadi simbol semangat, persaudaraan, keberanian, dan kebersamaan para anggota Pramuka.
Pembina Gudep Matsamuba, kakak Abdul Ghoni, S.Pd.I, dalam amanatnya menyampaikan pesan tentang pentingnya membangun persaudaraan antara kakak dan adik dalam kegiatan Pramuka.
“Dalam kegiatan Pramuka, dewan guru adalah kakak, sedangkan kalian adalah adik. Sudah sepatutnya, kakak menyayangi adik, dan adik menghormati kakak,” tegasnya.
BACA JUGA: Munajat Kemerdekaan, PMII Jepara Serukan Perjuangan Melawan Ketidakadilan
Menurutnya, nilai persaudaraan menjadi bagian penting dalam pendidikan kepramukaan. Hubungan antara pembina dan peserta didik tidak hanya dibangun melalui kegiatan belajar dan latihan, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, menyayangi, dan menjaga satu sama lain.
Abdul Ghoni yang juga merupakan pengurus Kwarran Bangsri tersebut juga mengingatkan para peserta agar senantiasa menjaga sopan santun, khususnya kepada orang tua.
Pesan tersebut menjadi penting bagi peserta didik MTs yang sedang berada dalam masa transisi dari anak-anak menuju remaja. Melalui kegiatan Perjusa, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman berkemah, tetapi juga belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kerja sama, dan tata krama.
Usai kegiatan api unggun, suasana malam belum berakhir. Para peserta kemudian melanjutkan kegiatan istighasah dan renungan malam. Kegiatan renungan dilaksanakan di lapangan Desa Banjaragung.
BACA JUGA: Menumbuhkan “Agripreneur” Cilik: Implementasi Urban Farming Berbasis STEM di SDN 7 Klumpit Kudus
Azka, salah seorang peserta dari kelas VIII yang berasal dari Kalimantan Timur, menyampaikan bahwa dirinya sangat berkesan dengan kegiatan yang ada di sekolahnya. “Kegiatannya seru dan sangat berkesan,” katanya.
Usai penyalaan api unggun, kegiatan istigosah dan renungan malam menjadi momentum bagi para peserta untuk berhenti sejenak dari rangkaian kegiatan yang padat. Di tengah suasana malam yang tenang, mereka diajak melakukan refleksi, mengingat kembali nasihat orang tua dan guru, serta menumbuhkan kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Ketua Mabigus MTs Matholiul Ulum Banjaragung, kakak Istiqomah, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan para kakak pembina yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Tanpa kerja sama, tentu kegiatan besar ini tidak akan terlaksana dengan baik dan sukses,” ungkapnya.
Kegiatan api unggun pun menjadi salah satu bagian penting dari Perjusa Matsamuba. Bukan hanya menghadirkan kemeriahan di tengah malam, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari pengalaman sederhana: berkumpul, bekerja sama, menghormati sesama, dan belajar bertanggung jawab.
Di bawah nyala api unggun, semangat Pramuka Matsamuba terus menyala. Bukan hanya api yang diharapkan tetap berkobar, tetapi juga semangat persaudaraan dan karakter para peserta didik.(KA/DL)