Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Tuesday, October 20, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Religi

Dari Surau hingga NU: Jejak Pengabdian Mbah KH As’ari di Kalipucang Kulon

by Redaksi 03/09/2026
Redaksi 03/09/2026 95 views
Makam Mbah KH As’ari
95

JEPARA | GISTARA. COM – Mbah KH As’ari merupakan sosok utama pelopor NU di desa Kalipucang Kulon Welahan, Jepara. Bagi masyarakat desa Kalipucang Kulon, beliau dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki kontribusi dalam perkembangan pendidikan keagamaan serta pengenalan nilai-nilai Nahdlatul Ulama (NU). Peran beliau menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah kehidupan keagamaan masyarakat di Desa Kalipucang Kulon.

Dalam kesehariannya, Mbah KH As’ari menjalani profesi sebagai seorang petani. Di sela-sela pekerjaannya, beliau meluangkan waktu untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an dan memberikan pengetahuan agama kepada anak-anak maupun masyarakat sekitar.

Aktivitas tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian beliau kepada lingkungan tempat tinggalnya. Beliau memiliki hubungan keilmuan dengan KH Sholeh Darat Semarang dan disebut pernah belajar kepada beliau.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Mbah KH As’ari memiliki bekal keilmuan agama yang kemudian diamalkan melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat.

Pada masa Mbah KH As’ari, kehidupan masyarakat Desa Kalipucang Kulon masih sangat erat dengan lingkungan agraris. Sebagian besar masyarakat menjalani kehidupan sebagai petani dengan pola kehidupan pedesaan yang sederhana.

BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031

Pendidikan agama pada masa tersebut juga masih berlangsung dengan sarana yang sederhana. Masyarakat memperoleh pembelajaran agama melalui surau, langgar, pengajian, serta bimbingan dari tokoh-tokoh agama setempat.

Surau memiliki fungsi yang cukup luas, bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat belajar, berkumpul, dan membangun interaksi sosial masyarakat. Keberadaan tempat-tempat tersebut menjadi bagian penting dalam proses perkembangan kehidupan keagamaan di Kalipucang Kulon.

Sementara itu, perkembangan NU pada masa tersebut belum memiliki struktur organisasi di tingkat desa seperti yang dikenal saat ini. Nilai-nilai ke-NU-an lebih banyak dikenalkan melalui kegiatan pengajian, pembelajaran Al-Qur’an, aktivitas keagamaan, dan pembinaan masyarakat.

Dalam keadaan tersebut, tokoh agama lokal memiliki peranan penting dalam menyampaikan ajaran agama sekaligus mengenalkan nilai-nilai NU kepada masyarakat.

Mbah KH As’ari menjadi salah satu tokoh yang menjalankan peran tersebut melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan yang dilakukannya.

BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks

Dalam perjalanan perkembangan Nahdlatul Ulama di Kalipucang Kulon, Mbah KH Ashari memiliki posisi sebagai salah satu tokoh perintis dan penggerak awal. Kiprah beliau tidak terutama terlihat melalui struktur organisasi formal sebagaimana organisasi NU yang berkembang pada masa sekarang.

Pada masa itu, pengenalan nilai-nilai NU lebih banyak dilakukan melalui kegiatan keagamaan yang telah dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pengajian, pengajaran Al-Qur’an, pembinaan generasi muda, dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat secara bertahap mengenal nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.

Peran Mbah KH Ashari dengan demikian menjadi bagian penting dalam menghubungkan tradisi keilmuan agama, kehidupan masyarakat, dan proses awal pengenalan NU di Desa Kalipucang Kulon.

Pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan Mbah KH Ashari. Beliau memberikan pengajaran membaca Al-Qur’an dan ilmu agama kepada anak-anak serta turut membina generasi muda.

Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, beliau dikenal memiliki sikap tegas dan disiplin. Ketegasan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan aturan, tetapi menjadi bagian dari usaha membentuk generasi yang memiliki pengetahuan agama, akhlak, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam belajar.

BACA JUGA: Menumbuhkan “Agripreneur” Cilik: Implementasi Urban Farming Berbasis STEM di SDN 7 Klumpit Kudus

Tradisi pendidikan yang dimulai dari surau tersebut kemudian terus berkembang pada generasi berikutnya. Perkembangannya dapat dilihat dengan munculnya lembaga pendidikan seperti Madrasah Mambaul Ulum.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama yang pada awalnya berlangsung dalam ruang sederhana dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lebih terstruktur dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Perjuangan Mbah KH Ashari tidak berhenti setelah beliau wafat. Nilai-nilai perjuangan yang telah beliau tanamkan kemudian diteruskan oleh putranya, Buya Mashudi. Setelah wafatnya Mbah KH Ashari, Buya Mashudi melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Balekambang di bawah bimbingan Mbah Dullah Balekambang.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Buya Mashudi kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan perjuangan yang sebelumnya telah dirintis oleh ayahnya, terutama dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Perjuangan tersebut kemudian diteruskan kembali oleh generasi berikutnya, termasuk KH Hamdan Mashudi. Proses tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi tidak hanya berkaitan dengan pewarisan jabatan atau kedudukan dalam organisasi, tetapi juga mencakup pewarisan ilmu, tradisi mengaji, semangat dakwah, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat.

Mbah KH As’ari dapat dipahami sebagai salah satu tokoh yang meletakkan dasar bagi perkembangan kehidupan keagamaan dan pengenalan nilai-nilai NU di tengah masyarakat.

Beliau hidup pada masa ketika perkembangan NU masih berada pada tahap awal dan struktur organisasi di tingkat masyarakat belum berkembang seperti sekarang. Karena itu, perjuangan beliau lebih banyak diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, pendidikan, pengajian, serta pembinaan masyarakat. Dari kegiatan tersebut kemudian tumbuh kehidupan keagamaan yang terus berkembang dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81

Warisan perjuangan Mbah KH As’ari dapat dilihat dari keberlanjutan berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan di Desa Kalipucang Kulon. Perkembangan tersebut kemudian terlihat melalui keberadaan madrasah, kegiatan pengajian, organisasi NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, Muslimat NU, majelis taklim, Lailatul Ijtima’, serta berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan yang dimulai dari sebuah kegiatan sederhana di surau dapat memberikan pengaruh yang panjang.

Oleh karena itu, kiprah Mbah KH As’ari tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai sejarah perkembangan kehidupan keagamaan dan NU di Desa Kalipucang Kulon yang terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sosok Mbah KH As’ari tidak hanya dikenal melalui profesinya sebagai seorang petani, tetapi juga melalui pengabdiannya dalam bidang agama dan pendidikan masyarakat.

Kehidupan yang sederhana, ketekunan dalam mengajarkan ilmu agama, serta perannya dalam mengenalkan nilai-nilai NU menjadi bagian dari jejak perjuangan beliau di Desa Kalipucang Kulon. Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah lokal yang terus berlanjut melalui generasi penerus. (Rahma)

Jejak pengabdianMbah KH. As'ariNUSurau
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati
next post
KKN UNISNU XXI Dampingi Pembuatan Wayfinding Sign hingga Perizinan NIB Warung di Wisata Kali Kodok Guyangan

You may also like

Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

14/10/2026

LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

13/10/2026

Gus Nabil Ajak Jama’ah untuk Bersikap Tawadu’, Bersyukur dan Perbanyak Istigfar

04/10/2026

Menjaga Diri dengan Wira’i dan Iffah

29/09/2026

Salat Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

28/09/2026

Kiai Fathur Rohman Serukan Kesalehan Total: Ritual, Sosial, dan Ekologis

21/09/2026

Terkini

  • Andalkan Potensi Kopi, Desa Dudakawu Masuk 25 Besar Program Desa BRILiaN

    20/10/2026
  • BAZNAS Jepara Salurkan 25.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Kaliombo

    20/10/2026
  • Menenun Masa Depan: Metamorfosis Pesantren dan Daya Saing Santri Menyongsong Indonesia Emas 2045

    20/10/2026
  • HSN 2026: Merawat Nilai Suci Pesantren dan Muhasabah di Era AI

    20/10/2026
  • Semarakkan Hari Santri 2026, LP Ma’arif NU Mayong Gelar Kompetisi Pelajar

    19/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here