JEPARA | GISTARA. COM – Mbah KH As’ari merupakan sosok utama pelopor NU di desa Kalipucang Kulon Welahan, Jepara. Bagi masyarakat desa Kalipucang Kulon, beliau dikenal sebagai tokoh agama yang memiliki kontribusi dalam perkembangan pendidikan keagamaan serta pengenalan nilai-nilai Nahdlatul Ulama (NU). Peran beliau menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah kehidupan keagamaan masyarakat di Desa Kalipucang Kulon.
Dalam kesehariannya, Mbah KH As’ari menjalani profesi sebagai seorang petani. Di sela-sela pekerjaannya, beliau meluangkan waktu untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an dan memberikan pengetahuan agama kepada anak-anak maupun masyarakat sekitar.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian beliau kepada lingkungan tempat tinggalnya. Beliau memiliki hubungan keilmuan dengan KH Sholeh Darat Semarang dan disebut pernah belajar kepada beliau.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Mbah KH As’ari memiliki bekal keilmuan agama yang kemudian diamalkan melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat.
Pada masa Mbah KH As’ari, kehidupan masyarakat Desa Kalipucang Kulon masih sangat erat dengan lingkungan agraris. Sebagian besar masyarakat menjalani kehidupan sebagai petani dengan pola kehidupan pedesaan yang sederhana.
BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031
Pendidikan agama pada masa tersebut juga masih berlangsung dengan sarana yang sederhana. Masyarakat memperoleh pembelajaran agama melalui surau, langgar, pengajian, serta bimbingan dari tokoh-tokoh agama setempat.
Surau memiliki fungsi yang cukup luas, bukan hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat belajar, berkumpul, dan membangun interaksi sosial masyarakat. Keberadaan tempat-tempat tersebut menjadi bagian penting dalam proses perkembangan kehidupan keagamaan di Kalipucang Kulon.
Sementara itu, perkembangan NU pada masa tersebut belum memiliki struktur organisasi di tingkat desa seperti yang dikenal saat ini. Nilai-nilai ke-NU-an lebih banyak dikenalkan melalui kegiatan pengajian, pembelajaran Al-Qur’an, aktivitas keagamaan, dan pembinaan masyarakat.
Dalam keadaan tersebut, tokoh agama lokal memiliki peranan penting dalam menyampaikan ajaran agama sekaligus mengenalkan nilai-nilai NU kepada masyarakat.
Mbah KH As’ari menjadi salah satu tokoh yang menjalankan peran tersebut melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan yang dilakukannya.
BACA JUGA: Heboh Pulau Menjangan Kecil Dikabarkan Dijual Rp500 Miliar, Bupati Jepara Tegaskan itu Hoaks
Dalam perjalanan perkembangan Nahdlatul Ulama di Kalipucang Kulon, Mbah KH Ashari memiliki posisi sebagai salah satu tokoh perintis dan penggerak awal. Kiprah beliau tidak terutama terlihat melalui struktur organisasi formal sebagaimana organisasi NU yang berkembang pada masa sekarang.
Pada masa itu, pengenalan nilai-nilai NU lebih banyak dilakukan melalui kegiatan keagamaan yang telah dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pengajian, pengajaran Al-Qur’an, pembinaan generasi muda, dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat secara bertahap mengenal nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.
Peran Mbah KH Ashari dengan demikian menjadi bagian penting dalam menghubungkan tradisi keilmuan agama, kehidupan masyarakat, dan proses awal pengenalan NU di Desa Kalipucang Kulon.
Pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan Mbah KH Ashari. Beliau memberikan pengajaran membaca Al-Qur’an dan ilmu agama kepada anak-anak serta turut membina generasi muda.
Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, beliau dikenal memiliki sikap tegas dan disiplin. Ketegasan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk memberikan aturan, tetapi menjadi bagian dari usaha membentuk generasi yang memiliki pengetahuan agama, akhlak, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam belajar.
BACA JUGA: Menumbuhkan “Agripreneur” Cilik: Implementasi Urban Farming Berbasis STEM di SDN 7 Klumpit Kudus
Tradisi pendidikan yang dimulai dari surau tersebut kemudian terus berkembang pada generasi berikutnya. Perkembangannya dapat dilihat dengan munculnya lembaga pendidikan seperti Madrasah Mambaul Ulum.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama yang pada awalnya berlangsung dalam ruang sederhana dapat berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lebih terstruktur dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Perjuangan Mbah KH Ashari tidak berhenti setelah beliau wafat. Nilai-nilai perjuangan yang telah beliau tanamkan kemudian diteruskan oleh putranya, Buya Mashudi. Setelah wafatnya Mbah KH Ashari, Buya Mashudi melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Balekambang di bawah bimbingan Mbah Dullah Balekambang.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Buya Mashudi kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan perjuangan yang sebelumnya telah dirintis oleh ayahnya, terutama dalam bidang pendidikan dan keagamaan.
Perjuangan tersebut kemudian diteruskan kembali oleh generasi berikutnya, termasuk KH Hamdan Mashudi. Proses tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi tidak hanya berkaitan dengan pewarisan jabatan atau kedudukan dalam organisasi, tetapi juga mencakup pewarisan ilmu, tradisi mengaji, semangat dakwah, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Mbah KH As’ari dapat dipahami sebagai salah satu tokoh yang meletakkan dasar bagi perkembangan kehidupan keagamaan dan pengenalan nilai-nilai NU di tengah masyarakat.
Beliau hidup pada masa ketika perkembangan NU masih berada pada tahap awal dan struktur organisasi di tingkat masyarakat belum berkembang seperti sekarang. Karena itu, perjuangan beliau lebih banyak diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, pendidikan, pengajian, serta pembinaan masyarakat. Dari kegiatan tersebut kemudian tumbuh kehidupan keagamaan yang terus berkembang dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya.
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81
Warisan perjuangan Mbah KH As’ari dapat dilihat dari keberlanjutan berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan di Desa Kalipucang Kulon. Perkembangan tersebut kemudian terlihat melalui keberadaan madrasah, kegiatan pengajian, organisasi NU, GP Ansor, IPNU, IPPNU, Muslimat NU, majelis taklim, Lailatul Ijtima’, serta berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan yang dimulai dari sebuah kegiatan sederhana di surau dapat memberikan pengaruh yang panjang.
Oleh karena itu, kiprah Mbah KH As’ari tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai sejarah perkembangan kehidupan keagamaan dan NU di Desa Kalipucang Kulon yang terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sosok Mbah KH As’ari tidak hanya dikenal melalui profesinya sebagai seorang petani, tetapi juga melalui pengabdiannya dalam bidang agama dan pendidikan masyarakat.
Kehidupan yang sederhana, ketekunan dalam mengajarkan ilmu agama, serta perannya dalam mengenalkan nilai-nilai NU menjadi bagian dari jejak perjuangan beliau di Desa Kalipucang Kulon. Perjuangan tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah lokal yang terus berlanjut melalui generasi penerus. (Rahma)