JEPARA | GISTARA. COM – Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga momentum untuk kembali merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Salah satu tradisi yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat adalah anjangsana, yaitu kebiasaan saling berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahmi, saling memberi, serta saling memaafkan.
Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup yang semakin individual, tradisi anjangsana menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada keluarga, tetangga, sahabat, dan kerabat yang harus terus dijaga hubungannya.
BACA JUGA: H. Ulil Albab, S.Psi, M.AP., Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Itulah yang dilaksanakan oleh Jamaah Ngaji Muslimatan NU Ranting Suwawal, PC Muslimat, PC Fatayat , PC IPNU-IPPNU dan PC GP Ansor Jepara yang melakukan anjangsana ke kediaman KH. Charis Rohman Ketua PCNU Jepara, Senin 23 Maret 2026.
Nor Ainy Ketua PC Muslimat NU Jepara menjelaskan, Anjangsana ini sebagai bentuk takdzim dan ngalap barokah pada guru khususnya pada para kyai.
“Setelah ini akan dilanjutkan ke poro kyai yang lain,” jelasnya.
Merawat anjangsana berarti merawat warisan leluhur. Menjaga silaturahmi berarti menjaga kemanusiaan. Dan di setiap langkah kaki yang mengunjungi rumah saudara, tersimpan harapan agar kebersamaan tetap hidup, dari generasi ke generasi. (KA)