JEPARA | GISTARA.COM – Aroma keju dan sosis yang menguar di pinggir jalan Kecamatan Tahunan setiap sore bukan sekadar daya tarik perut. Di baliknya, ada kerja keras sepasang suami istri warga Desa Tahunan yang membuktikan bahwa usaha kuliner rumahan pun bisa tumbuh dari nol menjadi bisnis yang diperhitungkan.
Nilam (50) dan suaminya Ma’ruf (55), pemilik Mozza Pizza usaha pizza pinggir jalan yang kini telah memiliki dua lapak dan mulai merencanakan ekspansi ke beberapa titik baru di Jepara.
Sebelum memutuskan terjun ke bisnis kuliner, Nilam melakukan survei kecil-kecilan di lingkungan sekitar rumahnya. Hasilnya, pasar lokal sudah jenuh dengan donat, sushi, hingga tela-tela. Namun satu celah masih terbuka lebar: pizza terjangkau untuk masyarakat umum.
Pada Agustus 2025, Nilam pun berangkat ke Semarang untuk mengikuti kursus pembuatan pizza. Namun ia tidak berhenti di situ. Sepulang kursus, ia mengembangkan sendiri takaran resepnya hingga menghasilkan cita rasa yang khas berbeda dari resep aslinya.
BACA JUGA: Pameran “TATAH” Resmi Dibuka, Menteri Kebudayaan Ajak Generasi Muda Lestarikan Seni Ukir
“Ini inovasi,” ujar Pak Ma’ruf dengan bangga, (8/5/2026). “Resepnya memang dari kursus, tapi takaran dan rasanya sudah dikembangkan sendiri oleh istri saya. Jadi beda dengan yang lain.” tambahnya
Desember 2025 menjadi titik awal produksi massal dan pembukaan lapak pertama. Sebelumnya, produk telah melalui uji rasa kepada keluarga dan kerabat, dan mendapat respons positif.
Dapur Bergerak sejak Pukul 10, Lapak Buka Setelah Asar. Rutinitas Moza Pizza dimulai setiap hari pukul 10.00 WIB, ketika Nilam mulai meracik bahan di dapur rumah mereka di Tahunan. Pizza masuk oven dan baru keluar sekitar pukul 14.30 WIB, kemudian dikemas dengan rapi sebelum dibawa ke lapak.
Ma’ruf berangkat setelah salat asar, sekitar pukul 16.00 WIB, dan berjualan hingga maksimal pukul 20.30 WIB. Dua lapak dioperasikan sekaligus satu di kawasan Panggang, satu lagi di arah Kecamatan Tahunan, dekat area SMA/SMP Tahunan.
BACA JUGA: PMII Soroti Akses dan Kualitas Pendidikan Jepara
Di lapak, Ma’ruf tampil ramah. Ia menyapa pelanggan yang lewat, khususnya anak-anak, sembari menampilkan pizza di balik etalase kaca tertutup agar tetap bersih dari debu jalan.
Mozza Pizza menawarkan empat varian rasa: jagung sosis, smoked beef, sosis original, dan lava. Di antara keempatnya, smoked beef menjadi yang paling laris terutama di kalangan anak muda dan Generasi Z.
Sementara anak-anak usia SD ke bawah cenderung memilih sosis original yang lebih familiar di lidah mereka. Varian lava bersifat eksklusif; hanya tersedia melalui sistem pesanan (by order) karena harus disajikan dalam satu loyang utuh.

Penampilan Mozza Pizza yang menggoda selera
Untuk harga, Moza Pizza mematok Rp13.000 per potong sebuah angka yang kadang membuat calon pembeli salah sangka.
“Banyak yang kira Rp13.000 itu satu loyang. Padahal itu per potong,” cerita Ma’ruf sambil tersenyum. “Saya jelaskan bahwa bahan baku kami premium. Setelah tahu, mereka justru merasa harganya wajar.”
Meski harga bahan baku sempat naik, Ma’ruf memilih bertahan di harga yang sama selama usahanya masih menghasilkan keuntungan. “Saya segan menaikkan harga ke pelanggan,” akunya. Suara Pelanggan: “Enak dan Nggak Bikin Kantong Bolong”
BACA JUGA: DPRD Jepara Godok Empat Ranperda, Ada Regulasi Pemilihan Petinggi
Abdul Rouf (20), warga Tahunan yang sedang membeli Moza Pizza, mengungkapkan kepuasannya terhadap produk tersebut.
“Saya pertama kali coba karena penasaran lihat antrean di lapaknya. Ternyata enak banget, apalagi yang smoked beef. Rasanya gurih, kejunya nggak pelit, dan harganya masuk akal buat kantong anak muda kayak saya,” ujar Abdul Rouf.
Ia mengaku kini menjadi pelanggan tetap dan sering merekomendasikan Moza Pizza kepada teman-temannya. “Yang bikin saya balik lagi itu rasanya konsisten. Nggak pernah kecewa. Semoga cepat buka cabang yang lebih dekat ke sini,” tambahnya.
Tantangan Tanpa Listrik hingga Rencana Pizza Durian tidak semua berjalan mulus. Salah satu kendala yang belum terpecahkan adalah ketiadaan aliran listrik di lokasi berjualan. Akibatnya, Ma’ruf menggunakan lampu emergency isi ulang untuk penerangan malam hari, sementara impiannya menggunakan lampu pemanas agar pizza tetap hangat hingga malam masih harus menunggu. “Kalau mau makan hangat di rumah, cukup dikukus dua menit,” sarannya.
Di sisi lain, ide-ide segar terus bermunculan. Seorang pelanggan menyarankan agar Moza Pizza membuat varian durian, mengingat Jepara dikenal sebagai daerah penghasil durian. Pak Ma’ruf mengaku tertarik dan berencana mencoba mengolah ide tersebut ke depannya.
Dari usaha yang semula hanya melayani pesanan daring, Moza Pizza kini bersiap membuka dua cabang baru di kawasan Mantingan dan sekitar Rumah Sakit Kuwasen. Perlengkapan berupa payung dan meja sudah dipesan. Ma’ruf berencana merekrut karyawan dengan sistem upah sekitar Rp30.000 per empat jam kerja.
Sementara urusan pemasaran digital dipegang penuh oleh Nilam, yang aktif mengunggah konten setiap hari melalui Facebook, Instagram, dan status WhatsApp.
Di luar dunia pizza, Ma’ruf tetap menjalankan usaha mebel, sementara Ibu Nilam masih aktif sebagai perias pengantin dan wisuda.
“Dulu jualan baju online, banyak yang utang. Sekarang jualan pizza di pinggir jalan, bayarnya tunai semua. Meski cuma beli sepotong, tetap kami layani dengan senang hati,” pungkas Ma’ruf (KA/Abimanyu)