Khoirul Misbah: Memikirkan Nafkah Keluarga dan Masa Depan Anak Bagian dari Ibadah

Khoirul Misbah memberikan tausiyah seusai salat Subuh di Masjid Jami' Raudlatul Falah, Desa Sekuro

JEPARA | GISTARA. COM  – Mencari nafkah untuk keluarga bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bagian dari ibadah. Bahkan, kegelisahan orang tua dalam memikirkan kebutuhan dan masa depan keluarganya menjadi salah satu bentuk tanggung jawab yang bernilai pahala.

Pesan tersebut disampaikan Khoirul Misbah dalam tausiyah seusai salat Subuh berjamaah di Masjid Jami’ Raudlatul Falah, Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, Jepara, Minggu (1/11/2026). Kegiatan Ahad Pagi itu berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.

Dalam ceramahnya, Khoirul Misbah mengajak jamaah memahami bahwa perjuangan mencari nafkah memiliki nilai spiritual. Menurutnya, ada bentuk kegelisahan yang justru menjadi bagian dari ikhtiar seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Perluas Akses Pendidikan, Bupati Jepara Salurkan Kartu Sarjana Rp2,49 Miliar

“Ada dosa yang tidak cukup dihapus dengan istighfar, sedekah, maupun mengandalkan amal sendiri. Salah satu bentuk ikhtiar yang bernilai ibadah adalah ketika seseorang bersungguh-sungguh memikirkan dan mencari nafkah untuk keluarganya,” ungkap Khoirul Misbah.

Ia menjelaskan, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum anak. Lebih dari itu, orang tua memiliki tanggung jawab memikirkan pendidikan, masa depan, hingga kemandirian anak ketika dewasa.

“Orang tua yang memikirkan bagaimana anaknya bisa mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang mapan berarti sedang menjalankan amanah. Mengantarkan anak sampai mampu mandiri merupakan tanggung jawab besar yang harus diperjuangkan,” jelasnya.

BACA JUGA: Dukung Pariwisata, Express Bahari 7G Perkuat Konektivitas Jepara–Karimunjawa

Khoirul Misbah juga mengingatkan agar orang tua tidak mengabaikan keluarga. Sebab, tanggung jawab terhadap istri dan anak bukan hanya persoalan materi, melainkan juga perhatian, pendidikan, pembinaan, dan keteladanan.

Menurutnya, siapa pun yang memiliki kegelisahan untuk memberikan kehidupan lebih baik kepada keluarga, masyarakat, dan umat, berarti memiliki kepedulian yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Apa pun profesinya, ketika seseorang memiliki kepedulian terhadap keluarga, warga, dan umat, kemudian berusaha memberikan manfaat, itu menjadi bagian dari amal kebaikan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa rezeki merupakan ketentuan Allah SWT. Namun, manusia tetap harus berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkannya. Rezeki tidak cukup hanya ditunggu, tetapi harus dijemput melalui pekerjaan yang halal, doa, dan kesungguhan.

BACA JUGA: Bupati Jepara Rotasi 29 Pejabat, Penguatan Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

Pesan tersebut selaras dengan QS At-Talaq ayat 2-3 yang menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa. Sementara QS Al-Baqarah ayat 233 mengingatkan kewajiban seorang ayah memberikan nafkah kepada keluarga secara patut.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk nafkah yang paling besar pahalanya adalah nafkah yang diberikan kepada keluarga.

Melalui tausiyah Ahad Pagi tersebut, jamaah diajak untuk tidak memandang pekerjaan semata-mata sebagai upaya memperoleh penghasilan. Lebih dari itu, bekerja dengan niat baik, mencari rezeki halal, mendidik anak, dan memenuhi tanggung jawab keluarga merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. (KA)

Related posts

PRNU Demangan Dilantik, Wujudkan Kemandirian dan Tebar Kemaslahatan bagi Masyarakat

Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas