JEPARA | GISTARA.COM – Semangat regenerasi dan penguatan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) menguat di Desa Wonorejo, Kecamatan Jepara. Sebanyak 40 pengurus baru Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Wonorejo resmi dilantik di Masjid Baitul Muttaqin, RT 05/RW 02, Sabtu (12/9/2026).
Pelantikan tersebut dirangkai dengan Pengajian Lailatul Ijtima’ dan dihadiri sekitar 300 masyarakat. Momentum ini menjadi ajang mempererat silaturahmi sekaligus menguatkan komitmen warga Nahdliyin dalam meneruskan perjuangan dan khidmah NU di tengah masyarakat.
Ustadz Muzayyin dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah PRNU Wonorejo, sedangkan Kyai Nur Faizin mengemban amanah sebagai Ketua Syuriyah. Kepengurusan baru tersebut diisi lintas generasi, mulai dari kalangan muda hingga para tokoh senior.
BACA JUGA: Gus Kikin: Dari Dunia Pelayaran menjadi Nahkoda PBNU
Sejumlah ulama, tokoh agama, dan masyarakat di antaranya KH Muhammad Hasyim, Kyai Hamidun, dan Kyai Solikin. Hadir pula badan otonom NU seperti Muslimat, Fatayat, dan Ansor.
Dari MWC NU Jepara hadir KH Fahmi Mubarok selaku Katib Syuriyah, KH Aunur Rofiq selaku Ketua Tanfidziyah, Rudy Sapto Hartono selaku Sekretaris, dan Harun Salim selaku Bendahara.
Sementara dari PCNU Jepara hadir sekaligus melantik pengurus, D. Nur Khoiri, M.Ag., selaku Wakil Rais dan Zamroni selaku Wakil Sekretaris.
BACA JUGA: Kafilah Jepara Resmi Dilepas ke MTQ Nasional, Pemkab Siapkan Reward bagi Peraih Juara
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nur Khoiri, M.Ag., mendorong pengurus NU Wonorejo agar memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus membangun kemandirian ekonomi warga melalui program LAZISNU.
“Perkuat pendidikan keagamaan dan LAZISNU,” ujarnya.
Terpilihnya Ustadz Muzayyin menjadi Ketua Tanfidziyah juga menjadi penanda penting regenerasi di tubuh NU Wonorejo. Perpaduan energi generasi muda dengan pengalaman para ulama dan tokoh senior diharapkan mampu membuat roda organisasi semakin aktif dan memberikan manfaat nyata.
Ke depan, PRNU Wonorejo diharapkan menjadi wadah pengabdian yang solid dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, ekonomi umat, hingga kaderisasi generasi muda.
Sebab, regenerasi bukan sekadar pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, regenerasi adalah ikhtiar meneruskan estafet perjuangan dan khidmah para ulama untuk NU, umat, dan masyarakat. (KA)