Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, September 18, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

by Redaksi 18/09/2026
Redaksi 18/09/2026 9 views
Oleh: H. M. Shohibul Itmam
9

Perubahan zaman yang ditandai oleh percepatan teknologi digital telah membawa dampak besar terhadap dunia pendidikan Islam. Proses pembelajaran tidak lagi hanya berlangsung di ruang kelas, pesantren, madrasah, atau perguruan tinggi. Pengetahuan keislaman kini hadir dalam berbagai platform digital: media sosial, kanal video, podcast, aplikasi pembelajaran, hingga berbagai ruang diskusi virtual.

Perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, teknologi digital memungkinkan pendidikan Islam menjangkau masyarakat yang lebih luas, cepat, murah, dan fleksibel.

Di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan persoalan serius berupa penyebaran informasi keagamaan yang tidak terverifikasi, potongan ceramah tanpa konteks, manipulasi informasi, hingga munculnya konten keagamaan yang berpotensi memperkuat sikap intoleran dan eksklusif.

Dalam konteks inilah Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki ruang strategis untuk berkontribusi dalam penguatan mutu pendidikan Islam sekaligus meningkatkan kompetensi digital masyarakat Muslim.

BACA JUGA: 21 Dapur MBG di Jepara Disidak Serentak Dini Hari, Dari Bahan Baku hingga IPAL Diperiksa

Pendidikan Islam di Tengah Perubahan Digital

Mutu pendidikan Islam tidak cukup diukur dari banyaknya lembaga pendidikan, jumlah peserta didik, atau kelengkapan kurikulum. Mutu juga berkaitan dengan kemampuan pendidikan Islam menjawab perubahan sosial dan teknologi.

Peserta didik saat ini hidup dalam ekosistem digital. Mereka memperoleh informasi bukan hanya dari guru dan buku, tetapi juga dari mesin pencari, media sosial, influencer, video pendek, dan komunitas daring. Karena itu, kemampuan memahami, memeriksa, dan menggunakan informasi digital menjadi bagian penting dari kompetensi pendidikan Islam.

Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, mampu berkomunikasi secara santun, serta bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Dengan demikian, literasi digital seharusnya tidak dipandang sebagai persoalan teknis semata. Literasi digital merupakan bagian dari pembentukan karakter dan etika seorang Muslim di ruang publik.

BACA JUGA: Pemkab Jepara Ajak Warga Kenali Rokok Ilegal, Ada Risiko Hukum Pidana bagi Pembuat dan Pengedar

MUI dan Penguatan Ekosistem Pendidikan Islam

Sebagai lembaga yang memiliki posisi penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia, MUI dapat mengambil peran dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan digital.

Pertama, MUI dapat memperkuat literasi keagamaan digital. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk membedakan antara informasi keagamaan yang memiliki dasar ilmiah dengan informasi yang sekadar viral. Prinsip tabayyun sebagaimana diajarkan Islam menjadi sangat relevan dalam menghadapi banjir informasi digital. Semangat tabayyun tidak boleh berhenti sebagai nasihat moral. Ia perlu diterjemahkan menjadi kemampuan praktis: memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, mengenali manipulasi digital, dan tidak mudah menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.

Kedua, MUI dapat mendorong peningkatan kapasitas pendidik dan dai di bidang digital. Guru pendidikan agama Islam, ustaz, mubalig, dan pengelola lembaga pendidikan keagamaan perlu memiliki kemampuan komunikasi digital yang memadai.

Penguasaan teknologi tidak berarti menggantikan otoritas keilmuan ulama. Justru teknologi harus menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan dengan tetap mempertahankan tradisi keilmuan, sanad, metodologi, dan etika.

Ketiga, MUI dapat mendorong produksi konten pendidikan Islam yang berkualitas. Ruang digital membutuhkan konten keislaman yang tidak hanya benar secara substansi, tetapi juga menarik, komunikatif, kontekstual, dan mudah dipahami generasi muda.

Selama ini, masyarakat sering menemukan konten keagamaan melalui mekanisme viralitas. Karena itu, diperlukan strategi baru agar konten yang moderat, edukatif, dan berbasis ilmu pengetahuan mampu hadir dengan format yang sesuai dengan karakter media digital.

BACA JUGA: PKB Jepara Konsolidasikan 16 DPAC, Bidik Kursi Pimpinan DPRD

Kompetensi Digital sebagai Bagian dari Akhlak

Salah satu persoalan penting dalam pendidikan digital adalah kecenderungan memisahkan teknologi dari akhlak. Padahal, dalam perspektif Islam, penggunaan teknologi juga harus tunduk pada prinsip moral.

Jari yang digunakan untuk menulis komentar di media sosial memiliki konsekuensi etis sebagaimana lisan dalam kehidupan nyata. Membagikan berita yang belum terverifikasi dapat merugikan orang lain. Menyebarkan potongan ceramah tanpa konteks dapat menimbulkan kesalahpahaman. Demikian pula membuat konten keagamaan semata-mata untuk mengejar popularitas dapat menggeser orientasi pendidikan dan dakwah.

Karena itu, kompetensi digital dalam pendidikan Islam idealnya mencakup sedikitnya empat kemampuan. Pertama, literasi informasi, yakni kemampuan mencari, membaca, memverifikasi, dan mengevaluasi informasi.

Kedua, literasi komunikasi, yaitu kemampuan menyampaikan pesan secara santun, efektif, dan bertanggung jawab.

Ketiga, literasi etika, yakni kesadaran bahwa aktivitas digital memiliki konsekuensi moral dan sosial.

Keempat, literasi produktif, yaitu kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya, pengetahuan, dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Keempat kompetensi tersebut dapat dipadukan dengan nilai-nilai Islam seperti ṣidq (kejujuran), amānah (tanggung jawab), tabayyun (verifikasi), ḥikmah (kebijaksanaan), dan maslahah (kemanfaatan).

Dari Konsumen Menjadi Produsen Pengetahuan

Tantangan pendidikan Islam di era digital tidak cukup dijawab dengan mengajarkan peserta didik agar tidak terpengaruh konten negatif. Pendidikan Islam perlu bergerak lebih jauh: membentuk generasi yang mampu menjadi produsen pengetahuan dan konten positif.

MUI bersama lembaga pendidikan Islam dapat mendorong program pelatihan pembuatan konten edukatif bagi guru, mahasiswa, santri, dan generasi muda. Mereka dapat diajarkan bagaimana membuat video pendek, infografis, podcast, artikel digital, maupun materi pembelajaran interaktif yang berbasis sumber keislaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pendekatan tersebut, ruang digital tidak hany dipandang sebagai tempat konsumsi informasi, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi intelektual dan moral. Hal ini penting karena generasi muda membutuhkan representasi Islam yang mampu berdialog dengan persoalan kehidupan mereka. Isu lingkungan, kesehatan sosial, ekonomi, keluarga, kewargaan, teknologi kecerdasan buatan, hingga etika bermedia sosial membutuhkan perspektif keislaman yang argumentatif dan kontekstual.

Penguatan Mutu, Bukan Sekadar Digitalisasi

Ada hal penting yang perlu ditegaskan: digitalisasi pendidikan tidak otomatis berarti peningkatan mutu pendidikan. Penggunaan aplikasi, platform pembelajaran, atau media sosial hanyalah instrumen. Mutu tetap ditentukan oleh kualitas pendidik, kedalaman materi, metodologi pembelajaran, sistem evaluasi, budaya akademik, dan karakter peserta didik.

Karena itu, agenda digitalisasi pendidikan Islam harus tetap berpijak pada tujuan pendidikan. Teknologi harus digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren. Dalam konteks ini, MUI dapat berperan sebagai penghubung antara otoritas keagamaan, lembaga pendidikan, akademisi, praktisi teknologi, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar transformasi digital pendidikan Islam tidak berjalan secara parsial.

MUI juga dapat mendorong dialog antara ulama dan pakar teknologi. Ulama memiliki kekuatan pada aspek nilai, norma, dan pemahaman keagamaan, sementara para ahli teknologi memiliki kompetensi dalam memahami perkembangan digital. Pertemuan dua kompetensi tersebut dapat melahirkan model pendidikan Islam yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Menghadapi Era Kecerdasan Buatan

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence semakin menambah kompleksitas pendidikan. Peserta didik kini dapat memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan dalam hitungan detik. Guru juga dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun materi pembelajaran.

Namun, AI juga membawa persoalan baru. Informasi yang dihasilkan mesin tidak selalu benar. Dalam bidang keislaman, persoalan tersebut menjadi lebih serius karena jawaban agama membutuhkan sumber, metodologi, konteks, dan otoritas keilmuan.

Karena itu, pendidikan Islam perlu mengajarkan AI literacy. Peserta didik harus memahami bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu belajar, tetapi tidak otomatis menggantikan proses berpikir, verifikasi sumber, maupun tanggung jawab intelektual.

Dalam hal ini, MUI dapat berkontribusi melalui penyusunan panduan etika pemanfaatan AI dalam pendidikan dan dakwah Islam. Panduan tersebut dapat membantu lembaga pendidikan, pendidik, dan masyarakat memahami batas antara penggunaan teknologi sebagai alat bantu dengan ketergantungan terhadap teknologi dalam menentukan persoalan keagamaan.

Membangun Pendidikan Islam yang Berkarakter dan Adaptif

Pada akhirnya, penguatan mutu pendidikan Islam dan kompetensi digital harus berjalan secara bersamaan. Pendidikan Islam tidak boleh kehilangan akar nilai ketika memasuki ruang digital. Sebaliknya, nilai-nilai Islam harus mampu hadir secara kreatif dalam perkembangan teknologi.

Peran MUI dalam konteks ini bukan sekadar memberikan respons terhadap berbagai persoalan digital setelah muncul di masyarakat. MUI dapat mengambil peran yang lebih proaktif dengan membangun agenda literasi digital keagamaan, penguatan kapasitas pendidik dan dai, pengembangan konten edukatif, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga teknologi, serta penyusunan panduan etika digital berbasis nilai-nilai Islam.

Tantangan terbesar pendidikan Islam di era digital sesungguhnya bukan teknologi itu sendiri. Tantangannya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi dengan ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan orientasi kemaslahatan.

Di sinilah pendidikan Islam memiliki posisi penting. Dan di sinilah pula MUI dapat mengambil bagian: memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya menghasilkan generasi yang semakin terampil menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang semakin matang dalam ilmu, berakhlak, kritis, moderat, dan mampu menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.

Pendidikan Islam yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menjaga nilai sekaligus membaca zaman. Sedangkan kompetensi digital yang ideal adalah kemampuan menggunakan teknologi dengan ilmu dan akhlak. Pertemuan keduanya menjadi salah satu fondasi penting bagi masa depan pendidikan Islam Indonesia.

Muhammad Shohibul Itmam, Dosen UIN Sunan Kudus, Wakatib Syuriah PWNU Jawa Tengah, Anggota Komisi Pendidikan, Pesantren dan Kaderisasi Ulama MUI Jawa Tengah

AIMUIPendidikan
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Harhubnas: Trans Jateng Jepara-Kudus-Pati Ditarget Beroperasi 2028
next post
3.500 Peserta Ikuti Persimanu II, Wujudkan Siswa Ma’arif Berprestasi dan Nasionalis

You may also like

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Mengamankan Pemilih AHWA pada Muktamar NU ke-35 Jombang

21/08/2026

Terkini

  • Bupati Jepara Rotasi 29 Pejabat, Penguatan Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

    18/09/2026
  • 3.500 Peserta Ikuti Persimanu II, Wujudkan Siswa Ma’arif Berprestasi dan Nasionalis

    18/09/2026
  • Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

    18/09/2026
  • Harhubnas: Trans Jateng Jepara-Kudus-Pati Ditarget Beroperasi 2028

    17/09/2026
  • Belajar Menjadi Pemimpin, Mahasiswa BCB Unisnu Jepara Kaji Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan

    17/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here