Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Monday, October 5, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
KolomRisalah

Bahasa Indonesia: Buku dan Masa Lalu

by Bandung Mawardi 22/10/2022
Bandung Mawardi 22/10/2022 857 views
Pengarang Tua dan Novel Lama
Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)
857

Bahasa Indonesia Buku dan Masa Lalu – Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)

Oleh : Bandung Mawardi

 

PADA MASA 1950-an, keinginan memajukan bahasa Indonesia diselenggarakan di sekolah, politik, pers, sastra, dan lain-lain. Kemajuan memerlukan “modal” berupa kebijakan-kebijakan pemerintah, ketersediaan bacaan, dan kurikulum. Bahasa Indonesia bergerak setelah babak-babak penentuan pada 1928, 1938, dan 1945. Kemajuan makin tampak pada masa 1950-an dengan bacaan-bacaan. Sekian buku pelajaran atau umum semula diterbitkan masa 1940-an tapi makin bermakna dan berfaedah pada masa 1950-an. Kita menduga itu masa terindah untuk penerbitan buku-buku mengenai bahasa Indonesia. kini, Kita menganggap buku-buku itu masa lalu.

Kita ingin mengenang tiga buku, membuka kembali halaman-halaman pernah dipelajari murid, guru, dan peminat bahasa Indonesia. Tiga buku lama masih lestari. Kita beruntung masih mungkin menghormati para penulis, memberi pujian untuk penerbit, dan mengerti dampak buku dalam perwujudan kemajuan bahasa Indonesia.

Tiga buku wajib tercatat dalam bibliografi bahasa Indonesia. Pada suatu hari, pemerintah bila mendirikan museum atau pusat dokumentasi, tiga buku wajib masuk koleksi. Nama-nama penulis juga bisa dijadikan nama ruangan atau penghargaan. Pada masa lalu, mereka berbagi pengetahuan: bukti pengabdian keilmuan. Di politik, bahasa Indonesia masa 1950-an memang meriah dan bergairah tapi pengajaran di sekolah memerlukan kaidah-kaidah keilmuan.

BACA JUGA: Tokoh, Jalan, Tembang (Bandung Mawardi)

Kita membaca buku berjudul Paramasastera Landjut susunan Madong Lubis. Di hadapan kita, buku terbitan W Verluys, cetakan kelima: 1954. Cetakan pertama pada 1946. Sekian bulan setelah proklamasi dan penetapan UUD 1945, Madong Lubis tampil di depan dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Buku membarakan keinginan murid dan guru agar mahir berbahasa Indonesia. Buku memberi penguatan bela negara-bangsa.

Penjelasan diberikan Madong Lubis bertanggal 1 Januari 1946: “Sampai sekarang sedikit sekali buku-buku bahasa Indonesia dikeluarkan orang, apalagi buku peladjaran untuk sekolah-sekolah menengah dan bagi orang-orang terpeladjar, jang suka memperdalam pengetahuannja didalam bahasa Indonesia, karena dalam waktu jang silam bahasa Indonesia tidak dipentingkan, sangat dianak-tirikan orang. Tambahan lagi pengarang-pengarang Indonesia kurang dihargakan. Penjelidikan dan pendapat orang Indonesia tidak dipertjajai.”

Kita membaca sedih dan kecewa. Madong Lubis bukan bermalasan dan minder. Ia justru menanggapi dengan buku cukup tebal: berseru pemajuan bahasa Indonesia. Buku pun bukti bila ahli bahasa tak melulu sarjana Belanda atau Eropa. Ia mungkin “marah” mengetahui buku-buku kebahasaan di Nusantara sering ditulis orang-orang asing. Buku-buku itu dipelajari di sekolah-sekolah. Sejak 28 Oktober 1928, buku mengenai bahasa Indonesia dibutuhkan tapi orang-orang Indonesia kesulitan atau enggan menulis buku (pelajaran). Mereka mau menulis kadang menjadi pendamping, pembantu, atau pihak kedua bersama pakar-pakar bahasa asing.

Di Medan dan pelbagai kota, buku susunan Madong Lubis tergunakan dalam pelajaran di sekolah. Buku sering cetak ulang mengabarkan mutu. Buku itu mendapat restu pemerintah (1950) untuk digunakan di sekolah-sekolah. Restu itu terpahamkan sebagai pembenaran buku berpengaruh dalam perkembangan bahasa Indonesia. Ralat dan penambahan pasti dilakukan Madong Lubis agar buku selalu mengalami pemutakhiran dan tanggap situasi zaman.

BACA JUGA: Makan(an): Alam dan Kemanusiaan (Bandung Mawardi)

Kita bertemu buku kedua, masih berasal dari Medan. Buku berjudul Seluk Beluk Bahasa Indonesia disusun oleh Sabaruddin Ahmad. Buku terbit 1948. Cetak ulang kelima pada 1953. Penulis buku berprofesi sebagai guru di Medan. Profesi turut menentukan nasib buku: laris dan penting digunakan di sekolah-sekolah. Penggunaan tentu tak cuma di Medan.

Buku mendapat sambutan dari Madong Lubis: “Berhubung dengan peralihan masa jang disebabkan oleh kebangunan Timur, bertambah banjaklah putera dan puteri tanah air jang sadar, jang insaf, bahwa mentjintai bahasa Ibu Pertiwi itu adalah bahagia sangat besar. bukan hanja sadja bagi pribadi, tetapi terutama kepada Nusa dan Bangsa.” Kita diberi pengertian pokok: bahasa Indonesia dan bahagia. Bahasa menjadi acuan orang-orang bahagia. Bahasa Indonesia itu tak sekadar bahasa resmi negara. Penggunaan dalam pelbagai peristiwa di kehidupan memuncak dengan bahagia.

Penulisan buku mendapat bantuan pemikiran dan masukan dari para ahli. Sabaruddin Ahmad sadar kemampuan terbatas dalam menghasilkan buku bermutu dipelajari di sekolah-sekolah. Ia memiliki pertimbangan agar bahasa Indonesia turut bergerak di alam kemajuan, masa akhir 1940-an dan 1950-an.

BACA JUGA: Tokoh, Jalan, Tembang (Bandung Mawardi)

Pengakuan tanpa kesombongan: “Penjusun sendiri masih belum merasa puas dengan hasil jang seketjil ini karena masih berupakan kupasan jang dangkal, sedikit sekali gunanja bagi umum, tetapi oleh dorongan perasaan jang ingin terus memperkenalkan bahasa Bunda kepada putera-puterinja maka penjusun berani meneruskan usahanja.” Kita menduga jumlah judul buku untuk dipelajari pada masa lalu masih terbatas. Sekian buku ditulis para ahli bahasa atau guru belum dijamin semua bermutu. Buku disusun Sabaruddin Ahmad dianggap penting dipelajari di sekolah-sekolah. Pengesahan diberikan oleh Djawatan Pengadjaran PP dan K (1951).

Di Medan, dua buku disusun Madong Lubis dan Sabaruddin Ahmad mengisahkan kesungguhan kaum terpelajar memajukan bahasa Indonesia. Pada suatu masa, Medan dilihat sebagai pusat perkembangan bahasa Indonesia. Peristiwa terpenting di Medan: Kongres Bahasa Indonesia II (1954). Kongres itu mengesankan ada keistimewaan dalam pemajuan bahasa Indonesia di kota berselera kemodernan. Bahasa Indonesia itu modern tapi berkembang selaras di pelbagai tempat memiliki beragam akar sosial-kultural.

BACA JUGA: Piring dan Nasib (Bandung Mawardi)

Kita berlanjut menikmati buku ketiga berjudul Djalan Bahasa Indonesia susunan Sutan Mohammad Zain. Dulu, ia moncer dengan Kamus Moderen Bahasa Indonesia. Penulisan buku untuk dipelajari di sekolah menambahi kehormatan dan pembuktian tanggung jawab atas kemodernan bahasa Indonesia. Kita membuka buku terbitan Grafica untuk cetak ulang kesepuluh, 1958. Buku terbit di Jakarta, kota terpenting dalam sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia, sejak seratusan tahun lalu.

Sutan Mohammad Zain tak ingin paling pintar dan menganggap buku itu terbaik. Ia menjelaskan: “Seperti sudah memangnja dalam karang-mengarang kitab-kitab peladjaran, kamipun djuga akan menerima dengan segala senang hati tiap-tiap teguran siasat, jang maksudnja bukannja hendak mentjela sadja, melainkan hendak memperbaiki djuga.” Pengakuan sebagai ahli tak membuat Sutan Mohammad Zain menutup diri dari saran dan kritik. Ia memang tak menggunakan diksi kritik tapi pembaca mengerti ada ikhtiar menjadikan buku sempurna dengan perbaikan atau ralat.

Sekolah menjadi institusi penting dalam memajukan bahasa Indonesia. Pada situasi hidup modern, bahasa Indonesia dipelajari serius. Ketersediaan buku-buku pelajaran dan pendamping mengantar guru dan murid makin menggandrungi bahasa Indonesia. Mereka bertambah mahir. Mereka mengerti bahasa Indonesia itu bahasa untuk politik, bahasa untuk keilmuan, bahasa untuk seni, dan lain-lain. Bahasa Indonesia makin kokoh dalam gerak sejarah Indonesia. Bahasa itu terus berkembang. Kini, kita melihat dan membaca tiga buku itu masa lalu. Kita menemukan hal-hal lama dan kedaluwarsa. Tiga buku itu penting meski tergantikan buku-buku terbaru belum tentu bermutu. Begitu.

*Bandung Mawardi merupakan pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah.

BahasaBahasa IndonesiaBandung MawardiBukuIndonesiaMasa Lalu
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Bandung Mawardi

previous post
Hilang Konsentrasi, Pengendara Motor Meninggal Dunia Tabrak Truk Parkir
next post
Verifikasi Faktual Anggota Partai di Karimunjawa Tuntas

You may also like

Cinta Mata Cinta Jendela Dunia

02/11/2025

Ahmad Mi’an: Mengukir Jalan Menuju Generasi Qur’ani

31/07/2025

Kasemun: dari Lumpur Sawah ke Balai Desa

29/07/2025

KH. Nasta’in: dari Sawah ke Panggung Dakwah

28/07/2025

Muladi: dari Perantau hingga Jadi Pemimpin Desa

27/07/2025

Suratno: Sang Guru Sederhana, Mengabdi Sepanjang Usia

26/07/2025

Terkini

  • Gentur Ajak Masyarakat Manfaatkan AI Berlandaskan Nilai-Nilai Islam

    05/10/2026
  • Keren! Pemkab Jepara Sabet Penghargaan JDIH dengan Progres Pencapaian Terbaik

    05/10/2026
  • El Niño Sangat Kuat, BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Datang Terlambat

    04/10/2026
  • Gus Nabil Ajak Jama’ah untuk Bersikap Tawadu’, Bersyukur dan Perbanyak Istigfar

    04/10/2026
  • MES Jateng Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Syariah dan UMKM

    04/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here