Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, September 10, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
KolomRisalah

Rumah dan Masjid

by Bandung Mawardi 25/03/2023
Bandung Mawardi 25/03/2023 875 views
Pengarang Tua dan Novel Lama
Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)
875
Pengarang Tua dan Novel Lama

Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)

Rumah berubah suasana. Hari-hari telah dilalui mungkin biasa-biasa saja dengan peristiwa dan bahasa rutin. Rumah itu perlahan berubah saat penghuni mengalami Ramadhan. Di rumah, sekian peristiwa menandai perbedaan-perbedaan. Kita mengartikan “selingan” dari rutin. “Selingan” bersuasana dan berpijak agama.

Pada saat dini hari dan sore menjelang malam, peristiwa kebersamaan di rumah mengartikan “mufakat” dalam menerima kewajiban berpuasa. Penjadwalan makan berubah. Makan berdampak dalam pembagian peran dan kadar. Rumah menjadi alamat mengartikan agama, keluarga, dunia, sesama, dan lain-lain. Rumah mungkin bernuansa religius meski televisi atau gawai turut membuat “ramai”. Orang-orang di rumah tapi berkelana jauh melalui beragam acara di televisi dan kesibukan bergawai.

Rumah tak selalu tempat “terindah” bagi orang-orang beribadah. Pada saat Ramadhan, kita biasa melihat keluarga-keluarga meninggalkan rumah menuju masjid untuk beribadah. Mereka pergi dari rumah, mengikuti kesadaran melakukan ibadah berjamaah. Di tempat ibadah, mereka pun menunaikan misi-misi sosial, pendidikan, seni, dan kultural. Keakraban terjalin: rumah dan masjid. Peristiwa raga-raga di dua alamat menguatkan kesan-kesan Ramadhan.

Masjid makin ramai. Sekian acara diselenggarakan selama Ramadhan. Jumlah jamaah meningkat berbarengan pemberian pesan-pesan keagamaan melalui serial khotbah. Ibadah-ibadah wajib mendapat sokongan dengan sebaran ilmu dan amalan-amalan keseharian. Masjid teringat dan referensi. Perjumpaan jamaah di masjid mewujudkan pergaulan mengarah capaian kebaikan, ketulusan, keindahan, kerukunan, dan lain-lain.

Pada saat mengalami peristiwa-peristiwa di rumah dan masjid, orang mungkin mengadakan perbandingan suasana. Ia pun berhak memberi tatapan arsitektur. Pengalaman ruang pun perlahan mendapat penjelasan-penjelasan. Perbandingan itu mengarah ke penandaan kekhasan-kekhasan. Konon, arsitektur membuat orang betah, tenang, bahagia, dan damai selama menghuni rumah atau berada di tempat ibadah.

Di buku berjudul Arsitektur Masjid susunan Achmad Fanani (2009), kita diajak bergerak ke pelbagai masa dan negeri. Kita melihat masjid-masjid dengan beragam kekhasan. Pada saat Ramadhan, masjid menjadi pusat. Kita pun menambahi pengetahuan masjid dengan bacaan-bacaan. Di pengalaman keseharian, masjid-masjid jarang berubah dibandingkan rumah-rumah. Masjid mungkin berubah bentuk dan penampilan berdalih peningkatan jamaah atau kondisi bangunan. Di desa atau kampung, perubahan tak terlalu rumit dalam urusan arsitektur.

BACA JUGA: Padi: Puisi dan Ritual

Di situ, terbaca penjelasan: “Semenjak perintah shalat diterima lewat peristiwa mi’raj Nabi Muhammad, masjid menjadi tempat sentral pengembangan Islam sebagaimana shalat menjadi pilar utama agama Islam. Secara lahiriah, masjid memang mengekspresikan prosesi dan pola tata laku ibadah shalat, terutama shalat berjamaah.” Pusat itu perlahan mengalami pemaknaan lanjutan melalui arsitektur. Perwujudan seni dan arsitektur menjadikan masjid itu indah. Kita membaca kutipan diperoleh Achmad Fanani dari uraian AT Mann: “… arsitektur bangunan menjadi tumpahan dari hampir seluruh korpus kreativitas Islam.” Kini, kita terbiasa melihat masjid-masjid di desa dan kota menampilkan keindahan dengan beragam corak arsitektur.

Masjid-masjid menjadi pemandangan dan perbincangan. Selama Ramadhan, kita mengetahui masjid-masjid mengantar kita mengetahui pelbagai hal. Masjid sebagai tempat ibadah. Masjid sebagai acuan-acuan kehidupan. Kita telah mendapat warisan cerita-cerita. Kita pun memerlukan bacaan-bacaan dalam ikhtiar mengenang, renungan, atau pemahaman.

Pada 1990, terbit buku berjudul Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Buku memuat cerita dan puisi gubahan Emha Ainun Nadjib. Buku menggunakan judul masjid, mengajak kita bergerak ke pelbagai perkara. Buku mungkin bakal selalu tercatat sebagai dokumentasi dan tata cara memaknai masjid, dari masa ke masa.

Emha Ainun Nadjib menulis: “Di tengah pengembaraan, tibalah aku di sebuah negeri kaum beribadah, namun betapa susah untuk menemukan masjid. Sepanjang siang, aku menyelinap kampung-kampung tanpa menjumpainya, dan jika malam turun termangulah aku di bawah bintang-bintang. Di manakah masjid? Ketika malam berangkat makin jauh memasuki relung sunyi dan cintanya, kembali aku bersandar di pangkal semesta. Kemudian tatkala fajar pun merekah, telah berada kembali aku di dunia kecil yang selalu riuh rendah ini sambil tetap bertanya, di mana masjid?”

Renungan tentang masjid, bukan sekadar bangunan tampak mata. Emha Ainun Nadjib membeberkan masalah-masalah kerohanian saat kita mengingat pendirian masjid-masjid di kampung dan kota makin marak di Indonesia. Masjid gampang dicari dan ditemukan, tak seperti pencarian oleh si pengembara dalam puisi. Kita memang memikirkan masjid, mengartikan melampaui raga atau bangunan. Di masjid, kita pun bisa “mengembara” secara batin. Ajakan pengenalan dan pemaknaan masjid.

Kita terbiasa melihat rumah dan masjid. Kita mula-mula melihat itu bangunan. Pada situasi berbeda, kita memerlukan untuk berada di pengalaman batin. Hari-hari berpuasa, kita mengerti suasana rumah dan masjid berubah. Perubahan itu mengarah ke batin saat berjamaah itu membahagiakan. Selama di rumah dan masjid, kita beribadah dan menggerakkan batin. Kita berada dalam “arsitektur” religius dan mengamalkan dalam tebaran kemanusiaan. Begitu.

Rumah dan Masjid
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Bandung Mawardi

previous post
Ladang Beramal di Bulan Ramadhan, Baznas Jepara Launcing Gerakan Bulan Sedekah
next post
Antisipasi Tingginya Permintaan Pasar Saat Ramadan, Pasokan BBM dan LPG 3 Kg di Jepara Ditambah

You may also like

Cinta Mata Cinta Jendela Dunia

02/11/2025

Ahmad Mi’an: Mengukir Jalan Menuju Generasi Qur’ani

31/07/2025

Kasemun: dari Lumpur Sawah ke Balai Desa

29/07/2025

KH. Nasta’in: dari Sawah ke Panggung Dakwah

28/07/2025

Muladi: dari Perantau hingga Jadi Pemimpin Desa

27/07/2025

Suratno: Sang Guru Sederhana, Mengabdi Sepanjang Usia

26/07/2025

Terkini

  • Jelang Pelaksanaan Persimanu 2, Panitia Gelar Rakor Lintas Sektor

    09/09/2026
  • Kafilah Jepara Resmi Dilepas ke MTQ Nasional,  Pemkab Siapkan Reward bagi Peraih Juara

    09/09/2026
  • Bupati Jepara Lakukan Rotasi, 27 Pejabat Tempati Posisi Baru

    09/09/2026
  • Melalui Layanan Eazy Passport, Urus Paspor Haji Tak Perlu ke Pati

    09/09/2026
  • Beda dari Yang Lain! Pelajar MA NU Tengguli Rayakan HAORNAS 2026 Lewat Baju Klobot Jagung dan Isu Anti-Korupsi

    09/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here