Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, October 16, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
KolomRisalah

Buku Itu Fana

by Redaksi 25/08/2022
Redaksi 25/08/2022 521 views
Pengarang Tua dan Novel Lama
Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)
521

Buku Itu Fana – Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)

Oleh: Bandung Mawardi

 

SEKIAN hari lalu, kita mengingat lagu, bukan buku. Kita mengingat lagu asmara berbahasa Jawa. Di tempat istimewa dan hari penting, lagu itu menjadi perbincangan. Kita malah dibuat jemu setelah bermunculan berita-berita tak keruan dan gosip murahan. Sekian hari lalu, kita tak mengingat buku gara-gara lagu itu terlalu mendapat perhatian.

Sekian hari sebelum lagu itu membikin sibuk Indonesia, ada orang-orang masih berharapan dengan buku. Mereka mungkin khilaf atau ikhlas untuk memastikan Indonesia masih bertema buku.

Pada zaman tangan-tangan bergawai, buku cetak masih diterbitkan. Buku-buku masih terpegang tangan dan ditaruh untuk dibaca: sejenak atau khatam. Benda masih mengabarkan ada kemauan membaca buku dengan adegan raga dicap “lama” dan pengalaman waktu.

Di Jakarta, pameran atau acara buku diselenggarakan tanpa janji semeriah masa lalu. Acara-acara terbaru untuk abad XXI memang tak menjadikan buku sebagai tema besar. Buku itu selingan atau tersier saja. Buku pun fana.

BACA JUGA: Bacaan dan Keluhan (Bandung Mawardi)

Di Republika, 6 Agustus 2022, berita perbukuan tersaji di hadapan sidang pembaca masih mau membuka lembaran-lembaran koran. Berita tentang Islamic Book Fair 2022 di Jakarta Convention Center, 5 Agustus 2022. Di situ, ada acara diskusi perbukuan. Wakil Presiden (KH Ma’ruf Amin) memberi seruan: “Kita ingin mendorong melalui Islamic Book  Fair ini minat baca makin terangsang dan pengetahuan tentang Islam dari berbagai sudut semakin dikuasai. Ini menjadikan generasi yang mengerti Islam lebih utuh secara benar.”

Buku masih dianggap sumber pengetahuan bagi orang-orang ingin mengetahui dan mendalami Islam. Buku tetap dipentingkan meski masalah-masalah agama mulai ramai di media sosial. Orang-orang mungkin mengaku malas dan lelah bila membaca buku. Mereka memilih menikmati pengajian, omong-omong, atau diskusi disiarkan dan beredar melalui media sosial. Beragama dengan gawai-gawai ketimbang buku. Seruan membaca buku masih terdengar tapi samar.

Kita tak perlu kecewa atau malu. Industri buku agama masih bertumbuh di Indonesia. Urusan pendapatan dan selera mungkin berbeda dibandingkan masa lalu. Buku tetap masuk rumah, perpustakaan, tempat ibadah, dan lain-lain. Buku-buku masih mungkin dipandang dengan segala anggapan dan perbuatan.

Dulu, industri buku agama (Islam) pernah marak. Kini, nostalgia saja. Kita mengetahui dari artikel-artikel dimuat dalam majalah Gatra, 15 Februari 1997. Babak marak sebelum Indonesia diguncang krisis (besar) ekonomi dan konflik-konflik politik (1998). Buku-buku mengabarkan kemauan belajar agama.

BACA JUGA: “S” Sakit dan Sehat (Bandung Mawardi)

Buku terakui laris dan turut bercerita masa 1990-an: Dialog dengan Jin Muslim. Buku susunan Muhammad Isa Dawud itu moncer dan laris di Indonesia. Buku diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pustaka Hidayah. Buku tak cuma bisa diperoleh di toko buku. Di pelbagai tempat, buku itu diperdagangkan gara-gara masuk daftar (paling) dicari publik.

Kita mengingat sekian penerbit di Indonesia memilih buku-buku asal Timur Tengah untuk diterjemahkan dan diterbitkan. Mereka sadar dengan mutu dan misi keagamaan, selain berhitung untung. Buku-buku terjemahan tetap menjadi terpenting ketimbang buku-buku bertema agama ditulis oleh orang-orang Indonesia.

Pada masa 1990-an, publik kesengsem dengan buku-buku Emha Ainun Nadjib. Ia tampil dengan beragam tulisan. Di pasar buku, Emha Ainun Nadjib sering menjadi buruan untuk para pembaca. Di majalah Gatra, kita mengutip keterangan: “Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) termasuk penulis buku-buku laris yang selalu dikejar penerbit. Cak Nun tak hapal penerbit mana saja yang telah menerbitkan bukunya. Buku-buku Cak Nun kebanyakan merupakan kumpulan tulisan-tulisannya di media massa dan termasuk buku populer yang laris manis.” Penerbitan buku-buku Emha Ainun Nadjib masih berlangsung sampai sekarang. Laris! Buku-buku edisi lama malah diburu oleh para kolektor dengan harga mahal.

Masa buku-buku digandrungi publik perlahan berlalu. Tata cara belajar agama beralih ke media-media berbeda. Tangan-tangan tak lagi harus membuka halaman-halaman buku. Pembuatan acara pameran buku, bedah buku, atau diskusi masih mungkin terjadi meski sadar “sepi”. Kita mengartikan “sepi” bukan sekadar pendapatan bagi pedagang, penerbit, dan penulis.

BACA JUGA: Tokoh, Jalan, Tembang (Bandung Mawardi)

Kita masih menandai sekian buku-buku bertema agama tetap laris asal disusun oleh para penceramah atau tokoh-tokoh sedang laris di televisi atau media sosial. Buku menjadi babak lanjutan atas kemonceran tokoh dan kehebohan tema-tema sedang diminati publik. Kita belum perlu menanti ada percakapan bermutu atau penulisan resensi-resensi kritis. Kehadiran buku-buku (cetak) anggap saja “keberuntungan” ketimbang makin disepikan dalam zaman bergawai.

Kita sedang mengesahkan buku (cetak) itu fana setelah orang-orang terlalu cerewet memberi tuduhan-tuduhan terburuk. Mereka menggoda kita: tak usah lagi memangku atau memegang buku. Usaha kolosal memasalalukan buku-buku (cetak). Kita mengerti ada penjuru baru dalam hidup bergawai. Penjuru tak mewajibkan buku itu setiap waktu.

Tangan-tangan bergawai memilih lagu, film, foto, dan lain-lain. Berseru buku tak perlu tanda seru. Kita sedang menikmati fana-fana untuk buku. Begitu.

*) Bandung Mawardi merupakan Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah.

Bandung MawardiBedah BukuPameran Buku
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Seribuan Warga kompak Meriahkan Kirab Budaya Desa Bugel
next post
Jalur Tol Demak-Jepara Lewati 5 Kecamatan Ini

You may also like

Cinta Mata Cinta Jendela Dunia

02/11/2025

Ahmad Mi’an: Mengukir Jalan Menuju Generasi Qur’ani

31/07/2025

Kasemun: dari Lumpur Sawah ke Balai Desa

29/07/2025

KH. Nasta’in: dari Sawah ke Panggung Dakwah

28/07/2025

Muladi: dari Perantau hingga Jadi Pemimpin Desa

27/07/2025

Suratno: Sang Guru Sederhana, Mengabdi Sepanjang Usia

26/07/2025

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here