Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
KolomRisalah

“S” Sakit dan Sehat

by Redaksi 02/09/2022
Redaksi 02/09/2022 554 views
Pengarang Tua dan Novel Lama
Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)
554

Sakit dan Sehat – Bandung Mawardi / Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah. (Foto: Alenia.ID)

Oleh: Bandung Mawardi

 

Pemerintah jangan selalu disalahkan dalam membuat dan menerapkan kebijakan-kebijakan. Konon, rapat-rapat untuk memikirkan segala kebijakan dilakukan serius dan lama. Pemerintah berdalih kebijakan-kebijakan demi kebaikan, kebahagiaan, kemakmuran, keadilan, dan lain-lain.

Di Jakarta, ada kebijakan perubahan nama. Kita tak bisa menebak kebijakan bakal menular ke pelbagai daerah. Orang-orang diminta untuk memilih penamaan rumah sehat ketimbang rumah sakit. Kebijakan agak mengejutkan dan membingungkan, setelah orang-orang terbiasa mengetahui bangunan atau tempat dinamakan rumah sakit. Dulu, mereka mengerti singkatan RS itu rumah sakit. Pada masa Orde Baru, ada juga singkatan RS (rumah sederhana) dan RSS (rumah sangat sederhana).

Pada suatu masa, pembuatan singkatan-singkatan kadang menimbulkan masalah. Singkatan memang berguna tapi bisa menimbulkan masalah dalam berbahasa dan berpikir. Di Indonesia, produksi singkatan sulit dibatasi atau dikendalikan. Pada abad XXI, singkatan-singkatan terus bertambah dan bermasalah.

BACA JUGA: Buku Itu Fana (Bandung Mawardi)

Semula, “S” itu sakit. Di Jakarta, “S” diinginkan sehat, bukan sakit. Murid-murid SD mengerti sakit dan sehat dalam materi pelajaran tentang antonim. Di sekolah, mereka mungkin dapat penjelasan mengenai singkatan RS dan penamaan baru seperti dikehendaki pemerintah.

Di buku berjudul MAW Brouwer antara Dua Tanah Air: Perjalanan Seorang Pastor (1994), Myra Sidharta mengenang: “Pada tahun 1982, ia mengajak saya dan Anna menulis lagi sebuah buku, kali ini mengenai orang sakit. Rumah Sakit dalam Cahaya Ilmu Jiwa adalah judul buku baru ini.” Kita diingatkan masalah rumah sakit. Dulu, mereka belum berpikiran menulis rumah sehat. Myra Sidharta menerangkan: “Lagipula Brouwer memang sudah banyak pengalaman dengan rumah sakit karena sudah berulang kali dan sering pula masuk rumah sakit.”

Buku itu mungkin bukan bacaan bagi orang-orang saat membuat kebijakan penggantian rumah sakit menjadi rumah sehat. Buku lama belum tentu dianggap berfaedah dan mengingatkan kesejarahan.

Kita membuka buku berjudul Rumah Sakit dalam Cahaya Ilmu Jiwa: Sentuhan Manusiawi (1983). Di halaman kata pengantar, kita membaca penjelasan: “Rumah sakit ialah lembaga dan tingkah laku yang dilembagakan. Tingkah laku yang kompleks itu dapat diterangkan dalam cahaya ekonomi, ilmu kedokteran, pelbagai teori kebudayaan dan memang juga ilmu jiwa.” Buku memuat pembahasan rumah sakit, bukan rumah sehat. Di rumah sakit, para penulis menerangkan posisi dan peran pasien, dokter, dan perawat.

BACA JUGA: Bacaan dan Keluhan (Bandung Mawardi)

Buku dilengkapi ilustrasi-ilustrasi buatan GM Sudarta itu penting dipelajari lagi meski tak cetak ulang. Kita membaca masalah rumah sakit tapi diajak pula mengerti masalah manusia sedang sakit dan manusia ingin sehat. Kita mengutip lagi: “Sakit adalah rintangan dalam jalan kehidupan manusia. Karena dialami sebagai rintangan, maka manusia berusaha mengatasinya. Usaha itu, antara lain, muncul dalam wujud rumah sakit.” Kita membaca lagi itu rumah sakit, belum rumah sehat.

Kita mungkin pernah berpikiran jumlah rumah sakit di Indonesia terus bertambah. Kita menduga jumlah orang sakit berarti bertambah. Sakit menjadi masalah terlalu sulit dan besar. Rumah sakit berperan agar orang sakit bisa sembuh. Penggunaan diksi sembuh berdekatan dengan sakit meski ada pengertian lanjutan: “sehat seperti sedia kala”. Di rumah sakit, orang-orang berpikiran dan berdebat mengenai sakit dan sehat. Mereka sadar berada di gedung dinamakan rumah sakit.

Masalah rumah sakit tak cuma ada dalam kebijakan pemerintah dan buku-buku ilmiah. Kita masih bisa mengetahui rumah sakit dari puisi-puisi. Afrizal Malna dalam puisi berjudul “Memo-Memo Rumah Sakit” memberi peringatan: Dan orang-orang mati baca puisi di rumah sakit. Lalu kota menutup pintu di matanya. Puisi terbaca agak menakutkan. Joko Pinurbo menggubah puisi berjudul “Rumah Sakit”. Di situ, ada sindiran dan keinsafan: Rumah adalah rumah sakit yang paling nyaman/ dan murah, sebab, kalau kau mau, kau bisa sakit sepuasmu. Dua puisi belum mencukupi untuk mengerti rumah sakit, bukan rumah sehat.

BACA JUGA: Kamus 70 Tahun (Bandung Mawardi)

Kita mulai dibingungkan dengan masalah kebahasaan. Sejak lama, kita mengetahui rumah sakit. Kini, penamaan diubah menjadi rumah sehat mengandung usaha merombak gagasan lama atau pengertian dimiliki jutaan orang. Rumah sehat memerlukan penjelasan-penjelasan kebahasaan, bukan cuma dokumen disahkan stempel dan tanda tangan.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), kita membaca pengertian-pengertian rumah, rumah sakit, rumah sakit mata, rumah sakit jiwa, dan rumah sakit umum. Di halaman 758, pengertian rumah sakit: “rumah tempat merawat orang sakit” dan “tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah kesehatan.” Kamus dipersembahkan pada masa Orde Baru itu belum mencantumkan rumah sehat.

Pada abad XXI, kebiasaan mengucap nama rumah sakit perlahan menjadi “kesalahan”. Papan-papan dengan tulisan rumah sakit terlalu lama memberi pengaruh gagasan sakit, obat, dokter, operasi, uang, sembuh, sehat, dan lain-lain. Kita telanjur memiliki pengertian-pengertian romantis, horor, dan jenaka  mengenai rumah sakit saat diceritakan dalam film dan novel. Imajinasi rumah sakit telah bertumbuh dalam sastra dan film selama puluhan tahun. Kini, kita digoda membuat cerita dan ingatan mengenai rumah sehat gara-gara kebijakan pemerintah. Begitu.

*) Bandung Mawardi merupakan Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah.

Bandung MawardiKebijakanPemerintahSakitSehat
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Kirab Tandu Divisi Soedirman Pecahkan Rekor Muri
next post
Disclaimer

You may also like

Cinta Mata Cinta Jendela Dunia

02/11/2025

Ahmad Mi’an: Mengukir Jalan Menuju Generasi Qur’ani

31/07/2025

Kasemun: dari Lumpur Sawah ke Balai Desa

29/07/2025

KH. Nasta’in: dari Sawah ke Panggung Dakwah

28/07/2025

Muladi: dari Perantau hingga Jadi Pemimpin Desa

27/07/2025

Suratno: Sang Guru Sederhana, Mengabdi Sepanjang Usia

26/07/2025

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here